Banjarnegara (17/05) — Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi PKS Rofik Hananto menutup secara resmi rangkaian Diklat 3-in-1 Digital Marketing di Banjarnegara, Minggu (14/05/2023).
Pelatihan yang sudah dilaksanakan selama 12 hari di Training Centre Kombas Digital International Banjarnegara tersebut merupakan bentuk kerjasama DPR RI dengan mitra Komisi VII Kemenperin dan BDI Yogyakarta.
Rofik dalam sambutannya mengatakan pandangan terhadap tempat bisnis atau pasar sudah berubah. Dimana adanya kerumunan itu menjadi pasar yang potensial, salah satunya kerumunan di sosial media.
“Sekarang tempat berbisnis berganti arah, kemana-mana. Kalau kerumunan itu (ada) banyak, orang bisnis akan mengatakan itulah pasar, dan sekarang di dunia ini memang banyak,” terang Rofik.
Rofik menjelaskan saat ini Indonesia menjadi salah satu kerumunan sosial media terbanyak di dunia, seperti pengguna Facebook di Indonesia mencapai 120 juta atau ketiga terbesar di dunia dan 89 juta pengguna Instagram keempat terbesar di dunia. Berdasarkan hal tersebut, Rofik mengatakan masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan pasar digital.
“Jadi Indonesia itu sudah sangat familiar dengan yang namanya pasar digital, kalau anda berbisnis, kalau anda pelaku pengusaha, kalau anda berbuat apa saja hari ini, sudah ada pasar baru yang namanya sosial media.”
“Jadi sekarang pasar itu tidak bergantung lagi pada 3P, place, price, product, tapi satu lagi adalah (bagaimana) bisa masuk, mengetuk ke customer dari pintunya masing-masing lewat sosial media,” tutur Anggota DPR RI Fraksi PKS tersebut.
Rofik kemudian mengurai tiga subkultur yang mempengaruhi keputusan pasar terbesar saat ini, yaitu women, youth, dan netizen.
“Yang pertama adalah women, the power of emak-emak, itu adalah yang mengoyak dompet laki-laki. Yang kedua adalah anak muda. Subkultur yang ketiga adalah para netizen, para masyarakat digital. Tiga subkultur ini menjadi segmen pasar baru, segmen slot baru, dimana dunia hari ini kalau tidak memperhatikan, tidak peduli dengan dunia ini dia akan makin jauh tertinggal,” urai Rofik.
Maka dari itu, Rofik mengucapkan selamat kepada 50 peserta yang telah mengikuti kegiatan selama 12 hari hingga uji kompetensi, karena kesempatan untuk meningkatkan skill tersebut merupakan kesempatan langka yang tidak didapatkan semua orang.
“Sekarang itu temen-temen semuanya, selama 12 hari telah dilatih disini, adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga sekali, karena sedikit orang yang dikasih kesempatan untuk up skill, peningkatan skill karena up skill itu di Indonesia adalah ruang kosong dari dunia pendidikan. Jadi perlu nambah skill baru dari (sektor) informal,” pesan Anggota DPR RI Dapil Jateng VII tersebut.
Rofik mengharapkan skill-skill yang telah dipelajari oleh peserta segera diaplikasikan lewat dunia kerja, karena Rofik meyakini skill yang baik adalah skill yang terus diasah, salah satunya melalui penempatan di dunia kerja.
“Masa depan itu adalah orang-orang yang punya skill khusus yang memang diminati, kalau anda asah terus akan memiliki skill, ability yang cukup untuk memadai, belum sampai expert (ahli) ngga masalah. Banyak orang yang naik skillnya itu setelah ketemu dunia kerja,” tutup Rofik.
Kepala BDI Yogyakarta Kunto Purwo mengatakan tujuan Diklat ini adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, terampil, dan siap kerja. Kunto juga mengatakan industri digital menekankan peserta untuk terus adaptif dan terus mengasah skill yang sudah dimiliki.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Rofik Hananto atas sinergi dan kerjasamanya selama ini,” tutur Kunto.