Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Hadiri Ngarot Karedok ke-125, Ateng Sutisna: Tradisi Desa Bisa Jadi Kekuatan Pangan dan Wisata Budaya

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Sumedang (22/09) — Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, menghadiri Upacara Adat Ngarot ke-125 di Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Minggu (20/9/2026). Ateng mengapresiasi masyarakat yang mampu mempertahankan tradisi tersebut lintas generasi sebagai warisan budaya yang merekatkan kebersamaan sekaligus mencerminkan hubungan masyarakat dengan pertanian dan alam.

Ia juga menilai keunikan Ngarot Karedok berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya baru di Sumedang. Pengembangannya harus tetap menjaga keaslian tradisi serta menempatkan masyarakat Desa Karedok sebagai pelaku utama.

Rangkaian Ngarot telah dimulai sejak dini hari dengan penyembelihan seekor kerbau. Kepala kerbau kemudian dikuburkan sebagai bagian dari prosesi adat, sedangkan dagingnya diolah untuk disantap bersama masyarakat. Prosesi penyembelihan dan penguburan kepala kerbau memang menjadi bagian penting dari tradisi Ngarot Karedok yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Masyarakat juga membawa hasil bumi terbaik dari lahan pertanian mereka. Hasil pertanian tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian kebersamaan masyarakat hingga makan siang bersama dengan olahan daging kerbau.

“Seratus dua puluh lima kali penyelenggaraan bukan perjalanan yang singkat. Ini menunjukkan masyarakat Karedok memiliki komitmen luar biasa dalam menjaga warisan leluhur. Ngarot bukan sekadar acara tahunan, tetapi ruang untuk menjaga rasa syukur, gotong royong, kebersamaan, dan hubungan masyarakat dengan alam,” ujar Ateng.

Rangkaian kegiatan berlangsung sejak dini hari hingga siang hari dan ditutup dengan makan serta doa bersama masyarakat. Menurut Ateng, kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi Ngarot tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mempunyai fungsi sosial yang kuat.

Tradisi Ngarot Karedok sendiri berkaitan erat dengan kehidupan agraris masyarakat. Selain prosesi penyembelihan kerbau, hasil-hasil pertanian juga menjadi bagian dari tradisi sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan kehidupan masyarakat desa.

“Yang menarik dari Ngarot adalah seluruh masyarakat terlibat. Ada hasil bumi yang dibawa, ada makanan yang dinikmati bersama, dan pada akhirnya seluruh warga duduk bersama dalam rasa syukur. Nilai kebersamaan seperti ini merupakan kekayaan yang harus terus kita jaga,” katanya.

Ateng menilai keterkaitan antara kebudayaan dan pertanian dalam Ngarot sangat relevan bagi masyarakat Sumedang. Menurutnya, keberlanjutan pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur, tetapi juga pada masyarakat yang menjaga tanah, air, lingkungan, dan pengetahuan lokal.

“Petani bukan hanya menghasilkan pangan. Mereka juga menjaga pengetahuan, tradisi, dan kehidupan desa. Karena itu, ketika kita berbicara tentang menjaga pertanian, kita juga harus menjaga kebudayaan yang tumbuh bersama para petani,” ujar Ateng.

Ia juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian Ngarot. Menurutnya, tradisi yang telah bertahan lebih dari satu abad akan tetap hidup apabila generasi berikutnya tidak hanya menyaksikan, tetapi juga memahami nilai dan makna yang diwariskan di dalamnya.

Selain menjadi sarana pewarisan nilai, Ateng melihat Ngarot Karedok memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan sebagai wisata budaya dan edukasi. Keunikan prosesi adat, tradisi agraris, hasil bumi, kuliner, serta semangat gotong royong masyarakat dapat menjadi pengalaman yang menarik bagi wisatawan.

“Dengan penataan dan promosi yang tepat, Ngarot Karedok berpotensi menjadi destinasi wisata budaya baru di Sumedang. Namun, pengembangannya harus tetap berpijak pada nilai-nilai adat dan melibatkan masyarakat sebagai pemilik tradisi. Pariwisata harus menguatkan, bukan mengubah jati diri Ngarot,” tegasnya.

Karena itu, Ateng mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh adat, generasi muda, pelaku pariwisata, dan masyarakat. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui dokumentasi budaya, penguatan kalender wisata, promosi yang berkelanjutan, serta pemberdayaan UMKM dan produk hasil pertanian masyarakat setempat.

Ateng mengapresiasi para sesepuh, tokoh adat, pemerintah desa, pemuda, serta seluruh masyarakat Desa Karedok yang terus menjaga penyelenggaraan Ngarot hingga ke-125.

“Kekuatan Ngarot ada pada masyarakat yang merawatnya dari generasi ke generasi. Tugas kita adalah memastikan tradisi ini tetap hidup, generasi mudanya terlibat, pertaniannya kuat, potensi wisatanya berkembang, dan nilai kebersamaannya terus diwariskan. Budaya yang kuat harus berjalan bersama dengan masyarakat desa yang semakin sejahtera,” pungkas Ateng.