Jakarta (15/09) — Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PKS dari daerah pemilihan Maluku Utara, Izzuddin Alqassam Kasuba, meminta pertumbuhan industri di Maluku Utara benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, investasi dan hilirisasi tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi di atas kertas, tetapi harus membuka lebih banyak pekerjaan, usaha, dan sumber penghidupan bagi rakyat Maluku Utara.
“Rakyat tentu senang kalau industri tumbuh dan investasi masuk. Tetapi pertanyaan sederhananya adalah: apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat? Apakah semakin banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan? Apakah semakin banyak orang Maluku Utara yang bisa menjadi pengusaha? Apakah pendapatan keluarga mereka meningkat?” ujar Alqassam di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan, besarnya aktivitas industri dan smelter di Maluku Utara seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat lokal untuk ikut mengambil bagian. Industri membutuhkan banyak barang dan jasa, mulai dari katering, transportasi, laundry, konstruksi, perawatan, pergudangan, logistik, pengolahan makanan, seragam, teknologi informasi, hingga pengelolaan limbah.
“Jangan sampai pabriknya ada di Maluku Utara, tetapi kesempatan usahanya justru dinikmati pengusaha dari luar daerah. Masyarakat Maluku Utara harus menjadi bagian dari pertumbuhan itu, bukan hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” tegasnya.
Karena itu, Alqassam mendorong Kementerian Perindustrian bersama Kementerian UMKM memastikan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Maluku Utara membuka ruang yang lebih luas bagi UMKM dan pengusaha lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memberikan pembiayaan kepada UMKM. Yang lebih penting adalah memastikan ada pasar bagi produk dan jasa mereka.
“UMKM jangan hanya diberi pinjaman, kemudian diminta berkembang sendiri. Kalau pemerintah ingin UMKM naik kelas, berikan mereka akses kepada pasar. Salah satu pasar terbesar yang tersedia sekarang adalah kebutuhan industri yang ada di daerah mereka sendiri.”
Alqassam menilai pendekatan tersebut akan menciptakan efek berganda. Ketika perusahaan lokal mendapatkan kontrak dari industri, maka uang berputar di daerah. Ketika UMKM berkembang, mereka membutuhkan tenaga kerja. Ketika tenaga kerja memperoleh penghasilan, konsumsi masyarakat meningkat dan ekonomi lokal ikut bergerak.
“Yang kita kejar bukan hanya pertumbuhan ekonomi. Yang kita kejar adalah kesejahteraan rakyat. Investasi harus membuka jalan bagi rakyat untuk bekerja, berusaha, dan meningkatkan taraf hidup,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan hilirisasi di Maluku Utara harus diukur bukan hanya dari besarnya investasi, jumlah smelter, atau nilai produksi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal.
“Kalau industri tumbuh tetapi rakyat kecil tetap sulit mendapatkan pekerjaan dan kesempatan usaha, berarti masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Kita ingin Maluku Utara bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya pengusaha lokal, lapangan kerja, dan keluarga yang hidup lebih sejahtera,” tutup Alqassam.