Jakarta (11/09) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat konsolidasi riset dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) nasional. Menurutnya, Indonesia telah memiliki berbagai talenta, riset, dan produk AI buatan lokal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan teknologi nasional.
Kurniasih mengatakan perkembangan agentic artificial intelligence membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan ekosistem AI yang mandiri dan kompetitif. BRIN dapat mengambil peran strategis dalam menghubungkan berbagai pusat riset, perguruan tinggi, talenta, startup, industri, dan pengembang AI lokal.
“Indonesia sudah memiliki talenta dan berbagai inisiatif AI buatan lokal. Ini merupakan modal yang sangat berharga. BRIN dapat mengonsolidasikan kekuatan tersebut sehingga berkembang menjadi salah satu kekuatan AI besar yang dibangun dari kemampuan bangsa sendiri,” kata Kurniasih.
Menurutnya, konsolidasi tersebut penting agar berbagai inovasi AI yang saat ini berkembang di berbagai lembaga tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan ekosistem riset yang terhubung, Indonesia dapat memperkuat pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, data, keamanan, hingga penerapan AI sesuai kebutuhan nasional.
“Yang kita perlukan adalah orkestrasi. BRIN bisa menjadi penghubung antara riset di perguruan tinggi, inovasi anak bangsa, pengembangan teknologi oleh industri, dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, berbagai potensi yang sudah ada dapat menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Kurniasih mengapresiasi pemetaan BRIN terhadap sejumlah teknologi strategis nasional, termasuk semikonduktor, kecerdasan buatan, biogenomik, dan komputasi kuantum. Khusus AI, ia mendorong agar riset terus diarahkan pada bidang-bidang yang memiliki dampak luas, seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan, kebencanaan, transportasi, hingga industri kreatif.
Ia menilai Indonesia memiliki kebutuhan dan karakteristik yang khas sehingga pengembangan AI nasional dapat diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang memahami konteks masyarakat Indonesia. Pengembangan tersebut juga dapat memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam teknologi AI.
“AI yang kita kembangkan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kita memiliki persoalan, data, bahasa, budaya, dan karakteristik sendiri. Ini justru bisa menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan Indonesia,” kata Kurniasih.
Selain menghasilkan teknologi, Kurniasih mendorong agar hasil riset AI memiliki jalur hilirisasi yang jelas. Riset diharapkan dapat berkembang menjadi prototipe, kekayaan intelektual, produk teknologi, maupun layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.
Ia juga menekankan pentingnya investasi pada talenta dan infrastruktur komputasi. Perguruan tinggi dan lembaga riset perlu memperoleh ruang yang cukup untuk mengembangkan kemampuan AI, sementara talenta-talenta terbaik Indonesia perlu mendapatkan ekosistem yang mendorong mereka berkarya dan berinovasi di dalam negeri.
“Kalau talenta, riset, data, infrastruktur, dan industri bisa terkoneksi dengan baik, kita memiliki fondasi yang kuat untuk membangun AI nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga investasi untuk daya saing dan masa depan sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
Kurniasih berharap BRIN dapat menjadikan kekuatan pengguna internet di Indonesia dengan angka yang cukup besar bukan hanya sebagai konsumen produk AI luar negeri, tetapi juga produk milik anak bangsa.