Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

​Ledia Hanifa Dorong Pelestarian Pencak Silat Budaya untuk Latih Karakter Anak dan Kurangi Adiksi Gawai

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

​Bandung (10/08) — Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan menggelar kegiatan Semarak Budaya Pasanggiri Pencak Silat Tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Bandung pada Minggu (9/8/2026). Ajang lintas kecamatan yang diikuti oleh peserta dari tujuh sekolah dan paguron ini diselenggarakan untuk merawat warisan budaya takbenda, mengalihkan ketergantungan anak terhadap gawai (gadget), serta membentuk karakter dan kedisiplinan guna meminimalisir aksi perundungan (bullying) di sekolah melalui kompetisi pasanggiri seni dan tradisi.

​Ledia menjelaskan bahwa kegiatan ini difokuskan pada pengembangan pencak silat dari sisi budaya dan seni tradisi (pasanggiri), bukan sekadar cabang olahraga prestasi (sport). Menurutnya, ajang skala komunitas seperti ini dihadirkan agar masyarakat dapat terlibat lebih luas dan mengakses ruang ekspresi budaya secara langsung.

​”Ini adalah upaya kita untuk mengalihkan anak-anak agar tidak hanya terfokus pada gawai. Jika hanya berfokus pada gawai, konsentrasi mereka cenderung individualis dan asosial. Melalui pencak silat, ada aktivitas fisik, olah akal, dan interaksi sosial yang nyata sehingga tumbuh kembang serta keterampilan hidup mereka jadi lebih seimbang,” ujar Ledia.

​Ia menambahkan bahwa interaksi dalam latihan pencak silat mengajarkan anak-anak pentingnya empati dan hubungan antarmanusia di dunia nyata. Anak-anak diajarkan untuk memahami nilai saling menghargai dan tidak bersikap semena-mena kepada sesama.

Keterampilan bela diri yang dipelajari anak-anak diarahkan untuk menumbuhkan keberanian dan membela kebenaran, bukan untuk melakukan perundungan.

​”Pencak silat mengajarkan keindahan seni, olahraga, dan kedisiplinan. Kita ingin membangun karakter anak-anak Indonesia agar lebih kuat dan kokoh, serta memiliki nilai sportifitas tinggi sehingga bisa meminimalisir kasus bullying di lingkungan sekolah,” tegasnya.

​Sebelumnya, kegiatan serupa telah sukses diselenggarakan untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ke depan, Ledia berharap ajang pelestarian budaya ini dapat dikembangkan dalam cakupan yang lebih luas antar-sekolah maupun antar-paguron.

​”Ini adalah upaya kita bersama untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan warisan budaya takbenda Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga warisan budaya ini, siapa lagi?” tutup Ledia.