Oleh: Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI – Ketua DPP PKS Bidang Pendidikan dan Kesehatan
Indonesia memiliki cita-cita besar dalam menyambut HUT Kemerdekaannya yang ke-100 pada tahun 2045 nanti yaitu Generasi Emas Indonesia 2045 dengan visi menjadikan Indonesia negara maju dan berdaulat. Momentum yang datang dalam 19 tahun ke depan ini tentu harus dipersiapkan dan direncanakan dengan baik bahkan sejak 10-15 tahun lalu dan terus dijalankan sampai sekarang. Karena mereka yang lahir 10–15 tahun lalu akan mencapai puncak produktivitas pada tahun 2045. Demikian juga meraka yang saat ini berada pada usia balita dan anak-anak akan mulai memasuki usia matang untuk bisa meraih berbagai peluang yang terbuka.
Bonus demografi yang sedang berlangsung saat ini dan mencapai puncaknya di 2045 diharapkan dapat dikelola melalui peningkatan kualitas SDM, khususnya kesehatan dan pendidikan sehingga akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Peningkatan kualitas SDM difokuskan untuk mencetak generasi yang cerdas, sehat, inovatif, dan berkarakter kuat untuk menjawab tantangan zaman. Bonus demografi adalah kesempatan emas untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Namun bonus demografi ini seperti pisau bermata dua. Jika diikuti dengan penyiapan sumberdaya manusia yang baik terutama pendidikan dan kesehatan, akan menghasilkan generasi produktif yang membawa Indonesia pada kemajuan dan kesejahteraan. Namun sebaliknya jika tidak didukung dengan kesiapan SDM, kulitas kesehatan anak yang buruk dan pendidikan yang kurang baik, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi akibat usia produktif yang berlimpah namun justru menjadi beban ekonomi karena tidak bekerja.
Tantangan Mewujudkan Generasi Sehat dan Cerdas
Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2026 mengangkat tema “ Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045 .” Tema ini bukan hanya sebuah ungkapan semangat, tetapi merupakan refleksi dari tekad dan keingunan kuat bersama untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas demi mewujudkan cita-cita besar Indonesia di masa depan. Generasi Emas Indonesia 2045 bukan sekedar slogan namun juga agenda jangka panjang bersama untuk menjadikan SDM Indonesia yang mampu membawa Indonesia tumbuh sebagai negara maju, adil, makmur, dan berdaya saing tinggi saat memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Untuk mewujudkan ini anak sehat, cerdas dan berkarakter menjadi pondasi utama agar menghasilkan generasi produktif yang mengisi masa Indonesia Emas tersebut.
Sejumlah tantangan masih dihadapi Indonesia dalam mewujudkan anak sehat dan cerdas. Dalam aspek kesehatan, kita masih bergelut untuk mengatasi stunting. Sampai tahun 2024 prevalensi stunting Indonesia masih berada di angka 19,8% atau masih jauh dari target yang ditetapkan saat itu yaitu 14%.
Meskipun mengalami pengurangan yang cukup signifikan namun masih belum dapat mengejar target yang diharapkan. Pemerintah sudah merevisi target stunting untuk tahun 2025 menjadi 18,8% agar lebih rasional yang diiringi dengan upaya terukur untuk mencapai target tersebut. Sebagian anak Indonesia juga mengalami masalah overweight dan obesitas yang angkanya terus meningkat namun disisi lain juga mengalami Defisiensi Gizi Mikro ( Hidden Hunger ). Banyak anak Indonesia yang tampak kenyang namun mengalami kekurangan zat besi, iodium, dan vitamin esensial yang memicu anemia serta menurunkan daya tahan tubuh.
Tantangan lain datang dari masalah kesehatan mental dan masalah psikologis yang diprediksi akan menjadi tantangan yang kian membesar menjelang 2045. Pemicunya salah satunya adalah dampak negatif media sosial (perundungan siber, kecemasan, krisis identitas), kurangnya kesadaran masyarakat serta minimnya fasilitas penanganan kesehatan mental yang ramah anak. Dampak era digital juga menyebabkan anak-anak terpapar layar gadget secara berlebihan telah menyebabkan gangguan pola tidur, masalah penglihatan, hingga keterlambatan bicara ( speech delay).
Dalam bidang pendidikan, anak-anak Indonesia juga masih menghadapi tantangan ketimpangan kualitas dan akses pendidikan antara perkotaan dengan peedesaan dan daerah 3T yang berdampak pada kesenjangan kualitas SDM. Kita juga dihadapkan pada literasi dan numerasi yang masih kurang dimana kemampuan membaca, matematika, dan sains masih perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing di kancah global. Kondisi gizi yang kurang baik terutama pada keluarga miskin dan di pedesaan juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan karena masalah gizi buruk mengganggu tumbuh kembang otak dan daya tangkap anak dalam belajar
Peran Anak Sehat dan Cerdas Untuk Wujudkan Generasi Emas
Anak yang sehat memiliki peran dan posisi yang penting untuk mewujudkan Indobesia Emas 2025 melalui terwujudnya generasi unggul yang akan membangun Indonesia. Anak yang sehat akan menjadi pondasi utama karena akan menentukan kecerdasan otak, daya saing bangsa dan produktivitas di masa depan. Anak sehat yang didukung dengan gizi dan kesehatan fisik yang baik akan membuat pertumbuhan otak anak menjadi maksimal. Hal ini akan berdampak pada kemampuanya dalam menerima pelajaran dan proses berpikir yang lebih baik (konstruktif, analitik, sistematis).
Anak yang meiliki fisik yang sehat dan kuat juga aan membuatnya lebih produktif saat memasuki usia pemuda dan dewasa karena memiliki daya tahan tubuh yang baik serta tidak mudah sakit, yang dibiutuhkan untuk membangun bangsa di masa depan. Anak yang sehat secara mental juga akan membuatnya menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, kreatif, inovatif dan memiliki jiwa yang stabil, tidak mudah rapuh. Kesehatan fisik yang baik ikut menjaga suasana hati dan mental anak tetap stabil serta tahan banting. Anak yang sehat dan tidak mudah sakit juga akan mengurangi beban keluarga di sisi pembiayan kesehatan sehingga alokasi anggaran keluarga bisa digunakan untuk kebutuahn lain yang lebih produktif daripada untuk pengobatan penyakit berat.
Indonesia saat ini sedang berada dalam periode bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan usia nonproduktif. Anak-anak yang sehat fisik, mental, dan kognitifnya akan tumbuh menjadi generasi produktif yang inovatif, kreatif, dan mampu bersaing secara global. Kesehatan fisik dan kecukupan gizi berkorelasi langsung dengan kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kecerdasan anak di sekolah. Anak-anak yang jarang sakit memiliki tingkat absensi yang rendah dan mampu menyerap ilmu dengan optimal. Bangsa yang dipenuhi anak-anak cerdas akan memiliki daya saing tinggi dalam bidang sains, teknologi, budaya, hingga ekonomi. Anak-anak dan generasi yang sehat secara fisik juga akan mengurangi beban negara dalam pembiayaan kesehatan.
Anak-anak cerdas juga memainkan peran penting sebagai motor penggerak utama sekaligus arsitek pembangunan yang akan menentukan keberhasilan visi Indonesia Emas 2045. Anak-anak Indonesia yan cerdas baik secara intelektual, emosional dan spiritual merupakann aset strategis yang akan mengubah potensi bonus demografi menjadi lonjakan kemajuan bangsa dan tidak menjadikannya bencana demografi.
Anak-anak yang cerdas akan siap dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat dan transformasi digital yang terus berlangsung. Bahkan mereka akan menjadi pelopor inovasi dan penguasaan teknologi. Anak yang cerdas tidak akan gagap dalam menghadapi era kecerdasan buata (artificial intellegent/AI) bahkan bisa menguasai dan mengelolanya untuk kemajuan mereka dan bangsa. Mereka tidak sekedar menjadi konsumen kemajuan teknologi namun menjadi bagian dari pencipta inovasi.
Anak yang cerdas juga akan tumbuh dan berkembang menjadi penggerak ekonomi khususnya ekonomi kreatif dan kewirausahaan karea mereka memiliki kemampuan sebagai problem solving dan idea creative. Anak-anak cerdas akan memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai inovasi dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada serta memanfaatkan peluang yang terbuka. Lebih jauh lagi, anak-anak yang cerdas juga akan menjadi Agent of Change di berbagai bidang dan sektor yang didukung dengan karakter dan integritas yang tinggi. Anak yang cerdas akan berkembang ketika dewasa untuk memiliki kemampuan merumuskan kebijakan publik yang berbasis data (data-driven policy), bersikap adaptif terhadap perubahan global, dan memimpin dengan transparansi untuk mengikis budaya korupsi
Mengawal Berjalalannya 7 Kebiasaan Anak indonesia Hebat
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah meluncuran gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Gerakan ini menitikberatkan pada pembiasaan positif sehari-hari yang sederhana namun berdampak luar biasa terhadap perkembangan anak. Tujuh kebiasaan anak hebat tersebut adalah Bangun pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Genar belajar, Bermasyarakat dan Tidur Cepat.
Kebiasaan bangun pagi akan membuat seorang anak terbiasa untuk disiplin waktu dan memulai hari secara produktif dengan berbagai hal positif. Sehingga anak akan meningkat kedisiplinan, kesehatan dan kesiapan belajar. Kebiasaan beribadah membiasakan anak untuk menjalankan kewajibannya kepada Sang Khalik sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang sudah diterima. Kebiasaan ini akan membentuk karakter anak untuk menjadi lebih religius, memiliki integritas dan akhlak mulia.
Kebiasaan berolahraga akan membuat anak selalu melakukan aktivitas fisik secara rutin yang membuatnya aktif bergerak dan tidak pasif/statis. Ini akan memberikan manfaat dalam bentuk terjaganya kesehatan, meningkatnya kebugaran serta melatih sportivitas dan ketahanan mental. Kebiasaan makan sehat dan bergizi berarti anak dibiasakan untuk selalu hanya mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan tidak asal konsumsi makanan yang sedang tren sekalipun. Kebiasaan ini akan mendukung pertumbuhan fisik, kecerdasan dan daya tahan tubuh anak. Kebiasaan untuk gemar belajar akan membuat anak ndonesia terbiasa belajar sepanjang hayat, di sekolah, rumah maupun lingkungan sosial. Anak memiliki kegemaran membaca dan kemampuan literasi yang baik serta mampu mengeksplorasi pengetahuan. Melalui kebiasaan ini, anak akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan prestasi yang baik.
Kebiasaan bermasyarakat akan membuat anak aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar, mau terlibat dalam kegiatan goting royong dan kemasyarakatan serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Sehingga anak akan tumbuh rasa empatinya, memiliki tanggungjawab sosial, toleransi dan kemampuan untuk bekerja sama. Kebiasan tidur cepat akan membuat anak memiliki pola tidur yang cukup dan teratur, yang akan bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Kebiasaan tidur yang cukup dan teratur juga akan membantu meningkatkan konsentrasi anak.
Peran keluarga Mewujudkan anak Sehat dan Cerdas
Keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk melahirkan anak sehat dan cerdas. Keluarga bertanggung jawab memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi, termasuk cukup sayur dan buah, serta membatasi gula dan lemak untuk mendukung perkembangan fisik dan kecerdasan anak. Keluarga juga berperan dalam membiasakan pola hidup sehat dengan mengajak anak aktif berolahraga secara rutin dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan rumah (ventilasi, sanitasi, dan pengelolaan sampah) untuk mencegah penyakit. Keluarga juga berperan dalam menciptakan suasana rumah yang harmonis, membangun komunikasi terbuka, dan memberikan dukungan emosional agar kesehatan mental anak terjaga. Keluarga juga perlu memastikan anak memiliki jaminan kesehatan (seperti BPJS) dan mendapatkan pemeriksaan kesehatan berkala.
Orang tua berperan sebagai pendidik utama yang memberikan teladan, membimbing proses belajar, dan memberikan dukungan emosional untuk menumbuhkan kecerdasan anak. Keluarga bertanggung jawab menciptakan kebiasaan membaca dan belajar di rumah, misalnya dengan menyediakan pojok baca dan berdiskusi tentang ilmu pengetahuan. Keluarga mendukung perkembangan berpikir anak dengan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif serta membangun spiritualitas melalui pembiasaan ibadah dan nilai keimanan. Di era modern, keluarga juga perlu memberikan literasi digital dengan mengawasi penggunaan gawai dan internet agar teknologi dimanfaatkan untuk belajar serta terhindar dari paparan konten negatif.
Anak Sehat dan Cerdas, Indonesia Maju, Sejahtera dan Bermartabat.
Selamat Hari Anak Indonesia!