Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Bicara Ideologi Pancasila, Meity Rahmatia Kumpulkan Ratusan Relawan Kebajikan Pancasila di Jeneponto, Sulawesi Selatan

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jeneponto (21/07) — Bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Indonesia, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di Komisi XIII, Meity Rahmatia menggelar sosialisasi ideologi Pancasila di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin (20/07/2026).

Anggota DPR RI yang terpilih dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan I pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 lalu itu, mengumpulkan lebih dari 300 relawan kebajikan Pancasila untuk mengikuti materi sosialisasi. Mereka terdiri dari tokoh agama, budaya, dan perwakilan masyarakat dari seluruh kecamatan di Kabupaten Jeneponto, dan sebagian dari Kabupaten Bantaeng, Sulsel.

Dalam sambutannya, Meity mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan dan mendekatkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, khususnya Gen Z. “Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi, generasi kita semakin menjauh dari nilai-nilai Pancasila. Dengan kegiatan ini, saya berharap seluruh peserta bisa kembali menghayati ideologi bangsa dan negara kita,” jelas politisi yang menyandang gelar doktor di bidang ekonomi tersebut.

Hal itu lebih diperinci Meity dalam paparan materinya sebagai pembicara dalam sesi diskusi. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara memiliki relevansi yang kuat dengan nilai kehidupan sosial, budaya, dan agama masyarakat di Jeneponto sehingga tidak sulit untuk mempraktikkannya sebagai norma dan basis moral di dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai pandangan hidup. Juga sejalan dengan nilai-nilai agama Islam sehingga bisa menjadi pegangan hidup. Saling menghormati, tidak berpecah belah antara sesama anak bangsa,” jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Sipitangarri, Jalan Lanto Daeng Pasewang tersebut juga dihadiri langsung Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerja Sama BPIP, Elfrida Herawati Siregar. Ia didaulat membuka langsung acara ini. Tak hanya itu, Elfrida di momen ini juga menjadi salah satu pemateri yang mengulas sejarah lahirnya Pancasila. Ia tampil bersama Meity dan akademisi dari Jeneponto, Sampara Halik.

Elfrida di awal materinya memuji budaya masyarakat Jeneponto yang tergambar dari tarian yang ditampilkan di dalam kegiatan ini. “Saya ikut terpacu semangatnya, dan kagum pada tarian Turatea tadi. Sangat menyimbolkan karakter masyarakat Jeneponto. Kuda dalam pengertian saya itu kuat, cepat, setia, berani, dan bekerja sama”.

“Saya surprise bahwa kuda menjadi simbol masyarakat Jeneponto. Dan Bapak dan Ibu tidak salah. Tapi itu akan kita buktikan ke depannya. Apakah itu hanya sejarah, apakah itu hanya cerita masa lalu. Bagaimana Jeneponto ke depannya. Apakah nilai Pancasila akan tetap abadi di Jeneponto. Itu ada di tangan kita semua,” ungkapnya.

Elfrida kemudian mengingatkan kembali peserta tentang masa kelahiran Pancasila. “Angkat tangan, siapa yang tahu hari lahirnya Pancasila?,” tanyanya yang akhirnya dijawab sebagian peserta, yaitu tanggal 1 Juni 1945. Perempuan yang menyandang gelar doktor di bidang pendidikan itu mengatakan, pengetahuan tentang hari lahir Pancasila memiliki arti yang sangat penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia di kemudian hari.

Terakhir, Elfrida tak lupa menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta, yang antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Memang, boleh dibilang, kegiatan yang dimulai dari pagi hingga siang ini berlangsung sukses. Selain diisi dengan diskusi tentang Pancasila, acara juga disela dengan hiburan berupa pementasan tari dan musik yang selaras dengan nilai dan budaya masyarakat setempat.

Sementara itu, akademisi dan cendekiawan dari Jeneponto, Sampara Halik, mengurai filosofi Pancasila, dari Sila pertama hingga Sila kelima. Sampara mengamini apa yang dipaparkan Meity sebelumnya, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di Jeneponto sesungguhnya telah mempraktikkan nilai-nilai Pancasila meski dari segi teks, belum dihafal secara utuh. “Seperti budaya kerja sama, gotong royong, saling membantu bila ada hajatan di salah satu desa. Konsep ini sangat sejalan dengan Sila Persatuan,” ungkapnya.

Sampara berharap, setelah kegiatan ini, masyarakat Jeneponto lebih memahami isi dari teks Pancasila sehingga bisa menjadi pedoman dalam menciptakan harmoni di dalam kehidupan sosial.