Jakarta (17/06) — Komisi X DPR RI resmi menyetujui rekomendasi alih kewarganegaraan (naturalisasi) dua pesepak bola, Mitchell Lee Baker dan Luke Anthony Vickery. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Kerja antara Komisi X DPR RI bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) serta pimpinan PSSI di Ruang Rapat Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Persetujuan naturalisasi ini menjadi angin segar bagi skuad Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Meski menyetujui, Komisi X DPR RI memberikan sejumlah catatan kritis kepada pemerintah agar langkah naturalisasi ini tidak mengesampingkan ekosistem sepak bola domestik dan tidak terkesan sebagai sekadar solusi instan yang terus berulang.
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Abdul Fikri Faqih, menyatakan dukungannya atas proses alih kewarganegaraan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa perbaikan kurikulum akademi sepak bola dan pembinaan usia dini harus berjalan menyeluruh hingga ke pelosok daerah, bukan hanya terpusat di kota-kota besar.
“Prinsipnya, Fraksi PKS menyetujui naturalisasi ini. Namun, tetap saja saya kira catatan yang berulang-ulang disampaikan jangan sampai berkesan fait accompli (keputusan sepihak yang harus diterima),” tegas Fikri Faqih dalam keterangannya, Rabu (16/6/2026) di Jakarta.
Lebih lanjut, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes) ini menjabarkan tiga poin evaluasi penting yang harus segera dibenahi oleh pemangku kebijakan.
Pertama, ia mendesak adanya regulasi kompetisi domestik, khususnya Liga 1 dan Liga 2, yang mewajibkan setiap klub memainkan pemain muda lokal dalam durasi waktu tertentu di setiap pertandingan.
Kedua, perlunya pembatasan kuota pemain naturalisasi dan pemain asing di level klub demi menjaga keseimbangan kompetisi dan jam terbang talenta lokal.
“Bukan berarti kita anti-naturalisasi, tidak bisa begitu dong, kita juga harus realistis. Namun, perlu diberlakukan aturan ketat yang menetapkan batas maksimal jumlah pemain naturalisasi di dalam tim. Harus ada angka maksimal yang diperbolehkan,” jelasnya.
Ketiga, Fikri mendorong Kemenpora dan PSSI untuk memfasilitasi pembangunan infrastruktur serta penyediaan fasilitas latihan berskala internasional yang merata hingga ke daerah.
Fikri meyakini, ketersediaan fasilitas yang dibarengi dengan pelatih bersertifikat internasional di daerah akan mampu mencetak banyak talenta lokal untuk menembus skuad Timnas di masa depan.