Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

LATANSA PKS Sumedang, Ateng Sutisna Dorong Kepemimpinan Muslimah yang Tangguh dan Responsif

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Sumedang (31/07) — Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, mendorong penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang tidak hanya berlandaskan integritas dan visi, tetapi juga ditopang keterampilan praktis dalam menghadapi berbagai situasi darurat di keluarga maupun masyarakat. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan LATANSA (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang digelar di Pendopo Pasanggrahan, kawasan Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari agenda reses DPR RI di Daerah Pemilihan Jawa Barat IX tersebut diikuti sekitar 100 peserta dan panitia yang merupakan kader perempuan PKS dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumedang.

“Kepemimpinan muslimah hari ini tidak cukup hanya kuat dalam gagasan. Ia juga harus teruji dalam kedisiplinan, komunikasi, kerja sama, kemampuan mengambil keputusan, serta kesiapan bertindak ketika keluarga atau masyarakat menghadapi situasi darurat,” kata Ateng.

Mengusung tema “Membangun Jiwa Kepemimpinan Muslimah yang Tangguh dan Visioner”, LATANSA dirancang sebagai wadah pembinaan yang memadukan penguatan karakter, wawasan kebangsaan, kebugaran fisik, kerja sama tim, dan kecakapan lapangan. Para peserta mengikuti berbagai kegiatan sejak pagi, mulai dari tracking, upacara pembukaan, senam bersama, bela diri praktis, peraturan baris-berbaris, pembinaan rohani, hingga outbound halang rintang.

Menurut Ateng, kepemimpinan yang kuat harus dibangun melalui pengalaman langsung, bukan hanya pembelajaran di dalam ruang kelas. Karena itu, peserta diajak mengembangkan disiplin, ketahanan mental, kemampuan berkomunikasi, serta kepemimpinan kolaboratif melalui berbagai aktivitas lapangan.

Salah satu keunikan LATANSA adalah penguatan aspek kesiapsiagaan bencana. Panitia menghadirkan narasumber dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Sumedang dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sumedang. PMI memberikan pelatihan pertolongan pertama (P3K), sementara materi dari Dinas Pemadam Kebakaran membekali peserta mengenai mitigasi bencana serta penanganan awal kebakaran.

Ateng menilai kolaborasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi teknis tersebut penting agar pelatihan kepemimpinan tidak berhenti pada tataran konseptual.

“Pemimpin yang baik harus mampu tetap tenang, memahami risiko, dan menggerakkan orang lain secara benar ketika menghadapi situasi yang tidak ideal. Karena itu, pembekalan dari Damkar dan PMI sangat relevan. Keterampilan ini bukan hanya berguna bagi organisasi, tetapi juga dapat menyelamatkan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Selain menerima arahan dari Ateng Sutisna, peserta juga memperoleh pembekalan dari dr. H. Encep Sugiana. Seluruh rangkaian kegiatan disusun untuk membentuk karakter kepemimpinan yang amanah dan visioner, meningkatkan kemampuan komunikasi serta pemecahan masalah, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus memperkuat kesiapan peserta mengambil peran kepemimpinan sesuai kapasitasnya.

Ateng menilai investasi dalam penguatan kepemimpinan perempuan akan memberikan dampak yang luas. Perempuan yang memiliki kapasitas memimpin, jejaring sosial yang kuat, serta keterampilan menghadapi situasi krisis akan menjadi penggerak ketahanan keluarga, organisasi, dan masyarakat.

“Muslimah yang tangguh bukan berarti berjalan sendiri. Ketangguhan lahir dari nilai yang kokoh, pengetahuan yang terus diperbarui, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengambil tanggung jawab. Kita ingin peserta LATANSA pulang dengan keyakinan bahwa setiap orang dapat menjadi penggerak kebaikan di lingkungannya,” tegas Ateng.

Ia berharap model pembinaan seperti LATANSA dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mencetak pemimpin-pemimpin perempuan yang berintegritas, adaptif terhadap perubahan, mampu membangun kolaborasi, serta memiliki kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana dan keadaan darurat.

“Ketahanan bangsa dimulai dari ketahanan keluarga dan masyarakat. Karena itu, memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan merupakan investasi penting untuk membangun Indonesia yang lebih tangguh, peduli, dan berdaya saing,” pungkas Ateng.