Semarang (09/06) — Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendorong penguatan sinergi Triple Helix antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah demi mengatasi ancaman kesenjangan keahlian hijau (green skills gap) dalam ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Hal itu ditegaskannya dalam Seminar Nasional bertajuk “Indonesia Green Future” yang diselenggarakan di kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Senin (8/6/2026).
Fikri memaparkan adanya paradoks hilirisasi di Indonesia. Investasi asing di sektor nikel dan EV melonjak hingga 93 persen, dari 6,1 miliar dolar AS pada tahun 2019 menjadi 11,8 miliar dolar AS pada periode 2022/2023.
Namun, pertumbuhan ini menciptakan ketimpangan ekstrem karena indeks kesiapan talenta hijau domestik berada pada rasio yang sangat kritis dibandingkan laju investasi tersebut.
“Investasi kendaraan listrik di Indonesia melonjak tajam dari 6,1 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 11,8 miliar dolar AS pada 2022/2023. Namun, laju permintaan green jobs tumbuh 8 hingga 11 persen per tahun, sedangkan laju suplai green talent hanya tumbuh sekitar 5 sampai 6 persen per tahun. Ketimpangan ini memicu backlog atau kekurangan talenta hijau hingga 30 persen di sektor energi baru dan pengolahan mineral kritis,” ujar Fikri setelah seminar di kampus Unissula.
Menurut politisi dari Fraksi PKS ini, kegagalan sistem pendidikan dalam merespons kebutuhan keahlian baru tersebut dapat berdampak fatal bagi masa depan tenaga kerja lokal.
Tanpa intervensi strategis, modernisasi pabrik hilirisasi nasional justru akan menciptakan ketergantungan kronis pada teknologi impor dan mendegradasi pekerja lokal menjadi sebatas pekerja kasar (unskilled labor).
Transformasi menuju ekonomi hijau untuk mencapai target Net Zero Emission 2060 membutuhkan pergeseran struktural yang fundamental.
Sebagai solusi konkret melalui konsep Triple Helix, perguruan tinggi didorong menjadi inkubator inovasi dengan mengalokasikan minimal 40 persen SKS mahasiswa tingkat akhir untuk riset atau magang di ekosistem EV melalui program MBKM.
Di sisi lain, pemerintah dan DPR RI siap mengawal insentif fiskal seperti regulasi Super Tax Deduction hingga 300 persen bagi industri yang berkomitmen berinvestasi di pendidikan vokasi.
Langkah ini ditargetkan mampu mendongkrak Indeks Kecocokan Kompetensi (IKK) nasional hingga mencapai skor minimal 0,85 di seluruh institusi vokasi percontohan pada tahun 2029.
Hadir dalam seminar tersebut Rektor Unissula Gunarto dan Dekan FTI Unissula Muhammad Qomaruddin.
Seminar nasional yang berfokus pada masa depan hijau Indonesia ini turut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten lainnya. Di antaranya adalah Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek I Ketut Adnyana, Head of Culture Development Polytron David Setyadi Rahardjo, serta Dosen Teknik Elektro Unissula Gunawan.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi langkah nyata Unissula dalam mengembangkan inovasi teknologi ramah lingkungan sekaligus mencetak SDM unggul yang siap menjawab kebutuhan industri hijau masa depan.