Sumedang (05/06) — Anggota DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, melakukan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) ke lokasi pembangunan Bendung Cariang dan Sungai Cipelang di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau langsung progres pembangunan bendungan yang menjadi harapan ribuan petani pascakerusakan parah yang terjadi sejak 2021.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Pemerintah Desa Sakurjaya, anggota DPRD Kabupaten Sumedang, kelompok tani, tokoh masyarakat, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Ateng menegaskan bahwa keberadaan Bendung Cariang sangat vital bagi keberlangsungan sektor pertanian di wilayah Ujungjaya dan sekitarnya. Sejak bendungan tersebut jebol, pasokan air menuju jaringan irigasi terputus sehingga ribuan hektare lahan pertanian mengalami kesulitan air.
“Persoalan Bendung Cariang bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan menyangkut kehidupan ribuan petani dan ketahanan pangan daerah. Karena itu, saya ingin memastikan pembangunan berjalan sesuai target agar kebutuhan masyarakat dapat segera teratasi,” ujarnya.
Bendung Cariang sebelumnya mengairi sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare lahan pertanian yang tersebar di sejumlah desa, seperti Ujungjaya, Kudangwangi, Sakurjaya, Keboncau, dan wilayah sekitarnya. Akibat kerusakan bendungan, banyak petani mengalami gagal tanam, bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pemompaan air secara mandiri.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga memengaruhi perekonomian masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor tersebut. Berkurangnya produktivitas sawah turut mengancam daya beli masyarakat dan kesempatan kerja bagi buruh tani, serta berpotensi meningkatkan angka kemiskinan apabila tidak segera ditangani.
Ateng juga menyoroti pentingnya Bendung Cariang dalam menjaga stabilitas pasokan pangan. Sebagai salah satu kawasan penyangga produksi padi di Kabupaten Sumedang, gangguan pasokan air yang berkepanjangan dapat memengaruhi ketersediaan beras di tingkat regional.
“Ujungjaya merupakan salah satu lumbung pangan yang harus kita jaga bersama. Ketika produksi pertanian terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada ketersediaan pangan,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, pihak BBWS selaku pemilik proyek bersama kontraktor pelaksana menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan Bendung Cariang sesuai target yang telah ditetapkan, yakni sebelum November 2027.
Selain pembangunan bendungan permanen, saat ini juga tengah disiapkan sistem pipanisasi sementara guna memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi selama proses konstruksi berlangsung. Upaya lain yang akan dilakukan adalah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Dinas Pekerjaan Umum terkait penanganan sedimentasi di wilayah hilir Sungai Cipelang agar debit air menuju lahan pertanian menjadi lebih optimal.
Ateng Sutisna berharap seluruh pihak dapat terus memperkuat sinergi agar pembangunan Bendung Cariang berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menilai keberhasilan proyek tersebut akan menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ekonomi masyarakat desa, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
“Dengan pasokan air yang kembali normal dan stabil, petani memiliki peluang untuk meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun. Ini bukan hanya soal panen yang lebih baik, melainkan juga tentang kesejahteraan petani dan masa depan pertanian di Sumedang,” pungkasnya.