Jakarta (16/05) — Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat IX, Ateng Sutisna, menegaskan pentingnya penguatan tata niaga komoditas nanas di Kabupaten Subang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima aspirasi generasi muda dalam kegiatan Gen Z Goes To Senayan – Sea World yang berlangsung pada 10–11 Mei 2026 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.
Dalam sesi dialog, peserta asal Kabupaten Subang menyoroti persoalan tata niaga nanas yang selama ini masih dihadapkan pada ketidakstabilan harga, khususnya saat musim panen raya. Kondisi tersebut dinilai membuat petani rentan mengalami kerugian karena sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk buah segar tanpa pengolahan lanjutan.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Subang tahun 2024, produksi nanas di Subang mencapai 1,6 juta kuintal. Kabupaten Subang sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi nanas terbesar di Indonesia dengan kontribusi mencapai sekitar 92 hingga 99 persen dari total produksi nanas di Jawa Barat.
Namun demikian, besarnya produksi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi optimal bagi petani karena rantai nilai produk masih didominasi penjualan bahan mentah.
“Atas kondisi ini, tata niaga harus diperbaiki. Jangan sampai daerah penghasil besar hanya menjadi pemasok bahan mentah, sementara nilai tambah ekonominya justru dinikmati pihak lain,” ujar Ateng.
Ateng menilai penguatan koperasi petani menjadi salah satu langkah strategis untuk memperbaiki tata niaga sekaligus memperkuat posisi tawar petani terhadap pasar.
Menurutnya, koperasi yang terintegrasi dengan program pemerintah dapat membantu petani memperoleh akses permodalan, pemasaran, hingga pengembangan produk turunan nanas yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Kalau petani hanya menjual buah segar, maka mereka sangat bergantung pada fluktuasi harga pasar. Tetapi ketika sudah masuk ke pengolahan, nilai tambahnya akan jauh lebih besar dan pendapatan petani bisa lebih stabil,” jelasnya.
Ia menjelaskan, potensi pengembangan produk turunan nanas di Subang sangat besar, mulai dari keripik nanas, dodol, selai, sari buah, hingga berbagai produk olahan lainnya. Bahkan, limbah kulit dan daun nanas juga dinilai memiliki potensi ekonomi melalui pengolahan eco-enzyme maupun serat daun nanas yang bernilai jual.
Menurut Ateng, penguatan agroindustri berbasis pertanian lokal juga sejalan dengan semangat pembangunan ekonomi berkelanjutan dan ekonomi sirkular yang saat ini terus didorong pemerintah.
Selain isu pertanian, peserta perempuan asal Subang yang tergabung dalam Mojang Jajaka Kabupaten Subang juga menyampaikan aspirasi terkait rendahnya minat generasi muda terhadap dunia politik serta terbatasnya ruang edukasi politik bagi pelajar.
Menanggapi hal tersebut, Ateng mendukung gagasan pembentukan program Duta DPRD Subang sebagai ruang pengenalan demokrasi dan pendidikan politik bagi generasi muda.
“Kalau memang dibutuhkan, saya siap datang ke sekolah-sekolah untuk berdialog dan memperkenalkan politik kepada generasi muda. Istilahnya tadi Gen Z Goes To Senayan, sekarang mungkin Gen Tua Goes To School,” katanya disambut antusias peserta.
Kegiatan ditutup dengan pemberian cendera mata kepada peserta serta pengumuman lomba yel-yel antardaerah, di mana Kabupaten Subang berhasil meraih juara pertama berkat kreativitas dan semangat yang ditunjukkan selama kegiatan berlangsung.