Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna Soroti Krisis Regenerasi Petani, Dorong Duta Tani PKS Jadi Motor Kemandirian Pangan di Daerah

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Majalengka (16/05) — Ateng Sutisna menilai penguatan peran Duta Tani menjadi langkah strategis untuk menjawab krisis regenerasi petani yang saat ini mengancam keberlanjutan sektor pangan nasional. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Training for Trainer (TFT) Duta Tani yang digelar Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan (BPPN) PKS Jawa Barat di Saung Panganteur Kahayang H. Ateng, Desa Salagedang, Majalengka, Sabtu (9/5).

Kegiatan TFT yang disinergikan dengan kegiatan Reses Anggota DPR RI Masa Persidangan V Tahun 2025–2026 ini, legislator PKS dari Dapil Jawa Barat IX (Sumedang, Majalengka, dan Subang) tersebut menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia tengah menghadapi tantangan serius akibat menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Padahal, ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada keberlangsungan regenerasi petani.

Berdasarkan data Sensus Pertanian BPS 2023, lebih dari 70 persen petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun, bahkan sekitar 27 persen telah berusia di atas 55 tahun. Sementara jumlah petani muda usia 19–39 tahun hanya sekitar 21,93 persen atau sekitar 6,18 juta orang dari total petani nasional.

“Atas kondisi ini, regenerasi petani tidak bisa lagi dipandang sebagai isu biasa. Kalau anak muda tidak mulai masuk ke sektor pertanian, maka beberapa tahun ke depan kita berisiko menghadapi krisis pangan karena tidak adanya penerus di lapangan,” ujar Ateng.

Menurut Anggota Komisi XII DPR RI itu, program Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan menjadi salah satu jawaban penting untuk membangun kembali minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Ia menilai pendekatan pertanian modern harus terus diperkuat agar dunia pertanian tidak lagi dipersepsikan sebagai sektor tradisional yang kurang menjanjikan.

“Pertanian hari ini harus dipandang sebagai sektor strategis yang modern, produktif, dan memiliki nilai ekonomi besar. Anak muda harus melihat bahwa pertanian bukan hanya soal mencangkul sawah, tetapi juga soal teknologi, inovasi, bisnis, bahkan ketahanan bangsa,” katanya.

Ateng menjelaskan, Duta Tani memiliki peran penting sebagai motor edukasi dan transformasi pertanian berbasis teknologi di tengah masyarakat. Melalui pendekatan smart farming, penggunaan alat mesin pertanian modern, digitalisasi, hingga pengembangan agribisnis kreatif, sektor pertanian dinilai dapat menjadi lebih menarik bagi generasi milenial dan Gen Z.

Ia juga menekankan bahwa penguatan sektor pangan memiliki hubungan erat dengan ketahanan energi dan ekonomi nasional. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia pertanian harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Kemandirian bangsa dimulai dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Ketika desa-desa kuat secara pangan, maka ekonomi masyarakat juga akan lebih kokoh dan tidak mudah terdampak gejolak global,” tegasnya.

Kegiatan TFT Duta Tani tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat dan difokuskan pada penguatan kapasitas penyuluh pertanian berbasis masyarakat, mulai dari teknik budidaya, pengelolaan lahan, hingga strategi pemberdayaan ekonomi lokal berbasis pertanian.