Ngawi (24/11) — Kunjungan dapil yang dilakukan oleh Riyono Caping dilaksanakan secara efektif melalui fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap APBN yang diterima oleh kementerian atau lembaga mitra Komisi IV.
“Pembinaan kepada stakeholder terkait penggunaan APBN atau dana hibah serta pinjaman harus dipastikan tepat sasaran dan mendukung prioritas nasional, khususnya pengentasan kemiskinan kepada semua kelompok masyarakat,” papar Riyono, Anggota Komisi IV DPR RI.
Salah satu program hibah luar negeri adalah dana pembinaan dan pemberdayaan sektor kehutanan dan lingkungan hidup yang didanai oleh Norwegia dalam FOLU Net Sink. Program FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030 merupakan inisiatif pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Tujuan utama program ini adalah menjadikan Indonesia sebagai penyerap karbon neto dari sektor kehutanan dan lahan pada tahun 2030.
Menurut Riyono, program ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan lahan, meningkatkan penyerapan karbon oleh hutan dan lahan, serta mencapai target penurunan emisi sebesar 29% pada tahun 2030.
“Strategi program ini harus menyasar semua kelompok masyarakat. Saya hadir di Sekolah Luar Biasa di Ngawi yang sudah menjalankan program ini untuk pertama kalinya. Pembangunan hutan tanaman dilakukan untuk meningkatkan luas hutan tanaman sehingga penyerapan karbon dapat bertambah,” tambah Riyono Caping.
SLB Beranda Istimewa Brudo melakukan kegiatan pertanian dengan penanaman pohon untuk meningkatkan penyerapan karbon dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
“SLB ini memiliki 60 murid dengan status ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang diasuh oleh 20 guru luar biasa. Mereka mau dan berpartisipasi menanam serta menjaga kelestarian hutan di Ngawi. Ini harus kita apresiasi,” tutup Riyono.