Jakarta (03/11) — Puluhan ribu warga Sudan melarikan diri dari Kota El Fasher di tengah kekejaman yang diduga dilakukan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Jaringan Dokter Sudan menyebut sedikitnya 1.500 orang tewas dalam dua hari saat warga mencoba melarikan diri dari El Fasher, ibu kota Darfur Utara.
Menanggapi perkembangan situasi di Sudan yang semakin memburuk, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyatakan keprihatinannya dan menyerukan agar pihak-pihak yang berkonflik di Sudan menahan diri serta melakukan gencatan senjata, mengingat konflik selama dua tahun terakhir telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil tewas dan 14 juta orang mengungsi.
“Gambaran situasinya tampak semakin buruk karena aksi pembunuhan massal yang keji. Ini mengingatkan pada peristiwa genosida yang terjadi sebelumnya dan menyasar beberapa etnis di wilayah Darfur pada konflik tahun 2003 hingga 2016,” ujar Sukamta.
Menurutnya, situasi saat ini lebih sulit karena konflik terjadi antara dua jenderal yang saling bermusuhan, yaitu Panglima Pasukan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) Abdel Fattah al-Burhan dan Panglima Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) Mohamed Hamdan Dagalo. “Mereka dulu bersekutu, memiliki kekuatan militer yang berimbang. Sementara dalam dua tahun konflik, kedua belah pihak terus meningkatkan propaganda kebencian berbasis identitas dan kesukuan,” tambahnya.
Sukamta menilai, upaya meredakan konflik dan mendorong gencatan senjata perlu diupayakan dengan serius agar tragedi kemanusiaan di Sudan tidak semakin parah. Wakil Ketua Fraksi PKS ini melihat kemungkinan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memiliki peluang terbesar untuk memberi tekanan, karena kedua negara tersebut menurut beberapa laporan memiliki hubungan dekat dengan militer Sudan dan kelompok paramiliter.
“Selain kedua negara tersebut, tentu Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) punya tanggung jawab moral untuk menghentikan segera konflik di Sudan. Sudan yang mayoritas penduduknya Muslim merupakan anggota OKI. Saya berharap pemerintah Indonesia bisa mendorong OKI untuk segera melakukan pertemuan darurat membahas upaya penghentian konflik di Sudan,” pungkasnya.