Oleh: Saadiah Uluputty (Anggota DPR RI Dapil Maluku, Komisi V, Fraksi PKS)
Di negeri yang dianugerahi tanah subur dan lautan luas ini, anak-anak adalah embun pagi yang menetes di ujung daun harapan. Mereka adalah halaman-halaman kosong yang akan ditulisi sejarah masa depan. Maka ketika setiap 23 Juli kita memperingati Hari Anak Nasional, artinya bukan semata seremoni atau rutinitas negara, tetapi panggilan nurani untuk merenung dan bertanya: sudahkah kita, sebagai bangsa, memberi ruang aman dan tumbuh bagi anak-anak kita?
Tahun ini, tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” kembali menggelitik kesadaran kita bahwa kekuatan negeri ini tak hanya dibangun dari gedung tinggi dan jalan tol megah, tapi dari jiwa-jiwa kecil yang hari ini masih belajar mengeja, melompat di halaman sekolah, atau tertawa di pelukan ibu. Mereka adalah pejalan masa depan, dan kita, dewasa yang kini memegang kebijakan—adalah penjaga jalannya.
Namun, jika kita menyibak lebih dalam kehidupan anak-anak di pelosok negeri, terutama di kepulauan timur yang jauh dari pusat kota dan gemerlap pembangunan, kita temukan banyak yang masih harus berjuang bahkan untuk sekadar merasakan pendidikan yang layak. Di daerah pemilihan saya, Maluku, masih ada anak-anak yang berjalan kaki belasan kilometer menyusuri lereng dan melintasi sungai hanya untuk sampai ke sekolah. Masih banyak desa tanpa taman baca, tanpa layanan kesehatan anak yang memadai, tanpa tempat bermain yang aman.
Apa kabar anak-anak yang seharusnya mendapat pelindungan dari kekerasan fisik dan mental? Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam beberapa tahun terakhir mencatat peningkatan kekerasan terhadap anak, termasuk di lingkungan rumah dan sekolah. Padahal, rumah dan sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling aman untuk bertumbuh. Kita perlu membangun lebih dari sekadar infrastruktur fisik; kita perlu menata peradaban yang lebih ramah terhadap suara-suara kecil mereka.
Sebagai anggota Komisi V DPR RI, saya mulai mendesak pemerintah agar pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada kota besar, tetapi menjangkau desa-desa terpencil, menjahit Indonesia dari pinggiran. Jalan yang baik bukan hanya memudahkan logistik, tapi juga menyelamatkan anak-anak yang menempuh jarak jauh ke sekolah. Jembatan yang kokoh bukan hanya konektor ekonomi, tapi pengaman kaki kecil yang setiap hari melintas di atas arus deras sungai. Penerangan jalan bukan hanya aspek teknis, tapi simbol bahwa negara hadir menjaga mereka hingga malam tiba.
Kita juga tak bisa menutup mata terhadap dampak perubahan iklim, bencana, dan konflik sosial yang membuat anak-anak menjadi korban paling rentan. Di beberapa titik bencana, anak-anak kehilangan rumah, sekolah, bahkan orang tua. Maka dalam setiap kebijakan mitigasi dan penanganan bencana, suara anak-anak harus dipertimbangkan, bukan hanya sebagai objek bantuan, tapi subjek pemulihan.
Dan betapa kita tak boleh alpa pada aspek paling mendasar: pendidikan. Masih ada anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena biaya, karena akses, atau karena budaya yang belum sepenuhnya berpihak pada anak perempuan. Padahal, pendidikan adalah cahaya pertama yang akan membimbing mereka menjadi warga negara yang hebat. Di Maluku, saya menyaksikan sendiri semangat anak-anak di pelosok yang belajar di bawah pohon, dengan buku lusuh, tapi dengan mata yang menyala. Mereka tidak meminta istana, hanya sedikit perhatian agar bisa tumbuh tanpa dibatasi ruang dan takdir.
Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen lintas sektor—pemerintah pusat, daerah, legislatif, dan masyarakat sipil—untuk menciptakan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada anak. Termasuk dalam desain kota, dalam pembangunan kawasan, dalam rencana jangka panjang bangsa. Indonesia Emas 2045 hanya akan tercapai bila hari ini kita memulai dengan keberpihakan yang nyata kepada anak-anak: memberi mereka ruang aman, udara bersih, akses teknologi yang inklusif, serta hak untuk bermain, belajar, dan berpendapat.
Tak ada satu pun bangsa besar yang mengabaikan generasi mudanya. Dan tak ada satu pun peradaban yang tumbuh tanpa memberi tempat terbaik bagi anak-anaknya. Mari kita akui bahwa membangun bangsa tak cukup hanya dengan angka pertumbuhan ekonomi dan ekspor. Kita butuh senyuman anak-anak yang sehat, cerdas, dan bahagia sebagai tolok ukur utamanya.
Di Hari Anak Nasional ini, saya tidak hanya menyampaikan ucapan selamat, tapi seruan hati: mari kita semua—orang tua, guru, pemimpin daerah, pejabat pusat, tokoh agama, dan masyarakat luas—berjanji dalam diam bahwa tak akan ada anak-anak yang tertinggal dari kereta kemajuan. Mari kita ciptakan Indonesia yang bukan hanya membesarkan tubuh mereka, tapi juga memuliakan jiwa dan cita-citanya.
Sebab sejatinya, anak-anak bukan hanya pewaris negeri ini, namun mereka juga adalah alasan utama mengapa negeri ini harus terus diperjuangkan. Selamat Hari Anak Nasional, Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045.