Jakarta (26/10) — Anggota DPR yang juga Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, menyampaikan ada hikmah yang perlu diambil oleh para Santri dan Pemuda termasuk pemuda Islam dengan hadirnya peringatan tiga hari penting, yakni Maulid Nabi, Hari Santri dan Sumpah Pemuda, yang berlangsung berdekatan.
Pria yang akrab disapa HNW ini menambahkan, salah satu hikmahnya yakni agar santri dan pemuda Islam dapat melanjutkan peran historis para Bapak dan Pahlawan Bangsa, dengan memahami kiprah mereka, agar dapat terus berkontribusi bagi kejayaan bangsa dan negara, meneruskan kiprah Pemuda, Santri, Ulama dan Habaib, pendiri Bangsa dan Negara Indonesia.
“Maulid Nabi jatuh pada tanggal 19 Oktober, Hari Santri diperingati pada 22 Oktober, dan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Ada korelasi atau benang hijau yang perlu diambil dari peringatan-peringatan tersebut, yakni agar peran pemuda, santri, ulama, habaib, dan ummat Islam sejak sebelum Indonesia Merdeka dan saat diperjuangkan menjadi negara merdeka, dapat diteruskan oleh para santri dan pemuda Islam di era reformasi dan oleh generasi milenial. Karena keteladanan mereka sebagai Pahlawan Bangsa tetap relevan, bahkan untuk Santri dan Pemuda di era disrupsi dan pasca pandemi sekalipun,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Minggu (24/10/2021).
Secara garis besar, pandangan ini disampaikan HNW dalam 3 kegiatan, yakni dalam Webinar PKS Asia dan Webinar Hari Santri yang diselanggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, serta Reses DPR RI jumpa dengan tokoh masyarakat dan warga di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, secara terpisah.
HNW menjelaskan bahwa para Ulama dan Santri Indonesia yang ikut mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menunjukkan bagaimana meneladani Rasulullah SAW dalam berjuang melawan kedzaliman (para penjajah), dan untuk itu siap bekerjasama dengan para pejuang dari latar belakang apapun, sekaligus memberikan keteladanan bagaimana hadirkan kenegarawanan dengan menjaga persatuan dan kesatuan umat dan bangsa.
“Mereka para ulama, habaib dan santri dari berbagai Ormas Islam (seperti Muhammadiyah, NU, PUI dan lainnya) dan Partai Islam (seperti Syarikat Islam, PII, Masyumi dan lain-lain). Mereka aktif dan produktif dalam keanggotaan BPUPK, Panitia Sembilan, PPKI, mereka bahu membahu berjuang bersama tokoh-tokoh Bangsa dari berbagai latar organisasi, suku dan agama yang berbeda,” ungkapnya.
Sehingga, tambah HNW, mereka bisa kompromi dan menyepakati dasar negara Pancasila, UUD 1945, bentuk negara NKRI termasuk nantinya memperjuangkan dan menerima disahkannya Departemen Agama pada 3-1/1946.
“Beliau-beliau itu telah memberikan keteladanan, dan sukses menghadirkan sejarah yang gemilang. Bukan menunjukan egoisme pribadi maupun kelompok, tetapi menunjukan kenegarawanan, agar bangsa dan negara ini tetap merdeka, bersatu dan berdaulat,” ujarnya.
Lebih lanjut, HNW menjelaskan bahwa selain rapat-rapat pendirian NKRI, para ulama, santri dan pemuda juga berjuang secara fisik dalam memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia merdeka. Itu nampak sangat jelas dalam peristiwa heroik ‘Resolusi Jihad’ yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asy’ari yang disambut dengan sangat antusias oleh para kiyai, santri dan pemuda. Peristiwa pada 22 Oktober 1945 itu kemudian diperingati sebagai Hari Santri.
“Jadi, apabila pada 10 November diperingati Hari Pahlawan, itu sesungguhnya ada korelasinya dengan peristiwa sebelumnya, yakni Resolusi Jihad 22 Oktober. Sehingga pemuda Bung Tomo pada 10 November dengan heroik meneriakan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Merdeka! Karena tersemangati oleh Fatwa dan Resolusi Jihadnya KH Hasyim Asyari,” ujarnya.
HNW menambahkan begitu pula dengan peristiwa men-sejarah sebelumnya yaitu Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selain organisasi pemuda bercorak kedaerahan dan kesukuan, ada pula pemuda yang menunjukan paham ke-Agamaan, yakni Jong Islamieten Bond (Perhimpunan Pemuda Islam).
“Para aktivis muda Islam itu bahu membahu dengan pemuda dengan berlatar belakang beragam. Mereka aktif dan produktif ikut menyelenggarakan dan menyepakati materi Sumpah Pemuda, yang menjadi tonggak penting berdirinya Negara Indonesia,” tuturnya.
Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa penting tersebut hanya sebagian dari banyaknya peristiwa bagaimana santri, pemuda, ulama, habaib dan umat Islam berkontribusi positif untuk Bangsa dan kemerdekaan Negara Indonesia.
“Oleh karena itu, kontribusi ini perlu diteruskan oleh para santri dan pemuda Islam, dengan makin mencintai Bangsa dan Negara dengan mengenal lebih baik terhadap sejarah santri dan pemuda, agar selalu bersatu, bisa bekerja sama dengan elemen-elemen bangsa lainnya,” terang HNW.
Agar, lanjut HNW, bangsa Indonesia bisa me-realisir tujuan kemerdekaan dan menyelamatkannya dari berbagai bentuk neo kolonialisme yang mengancam eksistensi Bangsa dan Negara.
“Sahabat Rasulullah SAW, bernama Ibnu Abbas RA pernah menyampaikan mengapa dalam Al Quran banyak diungkap sejarah dan cerita-cerita sejarah. Karena kisah-kisah itu sesungguhnya adalah sarana untuk menjadi ibrah (pelajaran) dan menunjukan bahwa memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan itu juga sudah dilakukan generasi sebelumnya dengan berbagai nilai yang diwariskan untuk jadi pembelajaran. Dan kisah-kisah tersebut tetap relevan bisa menjadi pegangan, dan inspirasi bagi para santri dan pemuda di masa kini dan masa yang akan datang menuju peringatan 1 Abad Indonesia Merdeka,” pungkasnya.