Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Lanjutkan Pembelajaran Jarak Jauh, Selamatkan Jiwa Anak Bangsa

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

 

Oleh Dr. H. Fahmy Alaydroes, M.M., M. Ed.
Anggota Komisi X DPR-RI – Fraksi PKS.

Wacana kembali ke sekolah nampaknya semakin meredup. Terlalu riskan membiarkan anak-anak kita bersekolah kembali di saat pandemik covid masih merona merah, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif dan meninggal masih terus meroket.

Apalagi, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa data kasus Covid-19 pada anak hingga Selasa (18/5/2020).

PDP sebanyak 3.324 kasus, 129 anak berstatus PDP meninggal dunia, 584 kasus anak terkonfirmasi positif Covid-19, dan 14 anak meninggal akibat Covid-19.

Data dari Kementerian Kesehatan, hingga 30 Mei 2020, terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak usia kurang dari 18 tahun. IDAI sangat menentang keras wacana kembali ke sekolah, karena akan menciptakan kerumunan dan interaksi yang sangat berbahaya di kalangan siswa, yang berpotensi memunculkan kuster baru, kluster sekolah.

Itu sebabnya, wacana yang muncul terkait dibukanya kembali sekolah-sekolah pada tahun ajaran baru pertengahan Juli 2020 menuai reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan. Berdasarkan data Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), paling tidak 12 negara telah membuka kembali sekolah mereka sejak akhir April 2020.

Namun, beberapa negara menutup kembali sekolah yang dibuka karena muncul kasus Covid-19 baru di sekolah, seperti di Korea Selatan, Perancis, dan Finlandia.

Sungguh sangat mengkhawatirkan dan mengerikan. Padahal toh, penerapan belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat diselenggarakan, meski mesti disiapkan dengan lebih baik.

Boleh jadi, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilanjutkan sampai akhir tahun 2020, sambil terus memantau perkembangan. Setidaknya demikian yang direkomendasikan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Agar PJJ menjadi lebih efektif dan produktif, perlu difahami prinsip-prinsip dasarnya. Jangan sampai terlanjur keliru atau salah faham, sehingga penerapan PJJ menimbulkan berbagai keluhan dan permasalahan dari siswa atau orangtua, bahkan guru.

Untuk pembelajaran jarak jauh, cara akan sangat beragam di tiap sekolah. Bahkan di sekolah yang sama dengan ragam latar belakang sosial ekonomi siswa, penyelenggaraan PJJ perlu penyesuaian di setiap individu siswa.

Maka yang perlu dipegang adalah prinsip2nya, yaitu:

1. Subtansinya adalah memastikan siswa belajar, maka cara bisa disesuaikan.

2. Belajar bisa di mana saja, bagaimana saja, kapan saja dan dengan media apa saja, yang penting relevan, signifikan, dan bermuatan. Perlu dibangun iklim, lingkungan, bahkan ekosistem belajar yang kondusif, stimulatif dan fasilitatif.

3. Karena belajar perlu tersusun, maka harus ada kurikulum sebagai acuan, referensi untuk dijadikan pijakan, pilar dan arah pembelajaran agar fokus dan efektif untuk mencapai target.

4. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jangan diarti-sempitkan dengan pembelajaran “ón-learning”, PJJ juga bukan ‘home-schooling’’, dan juga PJJ juga bukan “schooling at home”. PJJ adalah pembelajaran yang diselenggarakan oleh Sekolah, dengan siswa yang berada di tempat tinggal mereka (di rumah).

5. PJJ menekankan tumbuhnya proses Self Regulated Learning (SLR), di mana siswa diajarkan bagaimana belajar yang baik, efektif dan sesuai dengan karaktersitik/kondisi pribadinya dan target pembelajaran. Untuk itu maka PJJ harus di desain sedemikian rupa agar membantu siswa memunculkan dan menumbuhkan SLR. Tidak terlalu membebani dengan target-target atau tugas-tugas akademik, lebih baik fokus kepada pendidikan karakter (karakter spiritual, karakter moral/akhlak, karakter kinerja), Membaca, Matematika/Sains (IPA/IPS).

6. Pembelajaran diberikan dalam kesatuan konstruksi yang terintegrasi, tidak masing-masing bidang studi, dalam suatu proyek atau pembahasan problem/kasus (project based learning). Pembelajaran bisa dilakukan berkelompok atau individual. Pendidikan karakter dapat dilakukan setiap hari dalam tugas-tugas pembiasaan, diskusi, nobar film ceramah/tausiyah.

Dilakukan sendiri atau bersama-sama dengan anggota keluarga lain; misalnya Tilawah/Tahfizhul Quran, PAI, Peduli sesama, disiplin bersih dan rapih, Taáwun kerja di Rumah, dsb. Sifat penugasan ke setiap individu siswa bersifat proporsional, tidak terlalu berat tapi juga tidak terlalu ringan.

7. Mengefektifkan Kasek & Guru untuk menyiapkan PJJ ini dengan penuh tanggung jawab dan dedikatif. Kasek harus melakukan review dan supervis kepada guru, dan memastikan semua proses PJJ berjalan baik. Guru harus aktif, fasilitatif dan interaktif setiap hari, menjalin komunikasi kepada siswa mereka dan juga orangtua siswa. Memberi feedback kepada siswa dan orangtua, membuat laporan setiap pecan kepada Kasek, dan ditembuskan kepada ortu. Sekolah, yang direprsentasikan oleh guru, dirasakan ‘hadir’ penuh oleh orang tua. Dengan demikian, uang SPP yang dibayarkan, mendapat manfaat yang memuaskan. Agar terkendali dan efektif, maka satu orang guru (wali kelas) meng ‘handle’satu kelas siswa.

8. Penyelenggaraan PJJ harus dibuat dalam suatu rancangan dan rencana serta penjadwalan yang rinci dan jelas. PJJ dapat dilakukan dengan pendekatan blended learning dalam artian yang luas, memadukan dan mengkombinasikan berbagai pendekatan; antara manual dan digital, antara off-line dan on-line, individual-kelompok, dsb. Siswa dapat saja datang ke sekolah untuk bertemu dengan guru dalam rangka menyampaikan report tugas-tugas mereka, dan mendapatkan pengarahan atau penguatan secara langsung, tentu dengan menerapkan protocol kesehatan Covid-19; jaga jarak, masker, cuci tangan, sehat, dsb.

9. Untuk membangun ikatannya dan akuntabilitas sekolah pastikan setiap pekan ada online meeting Guru dan Kasek, dan setiap bulan sekali dengan orangtua siswa.