Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna: MIND ID Harus Lahirkan 9 Raksasa Industri, Selevel Perusahaan Tambang “9 Naga” dan “9 Haji”

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (02/10) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mendorong MIND ID membangun sembilan entitas industri pertambangan dan mineral berskala besar yang mampu memiliki daya saing setara dengan perusahaan-perusahaan tambang milik kelompok usaha swasta yang kerap disebut “9 Naga” dan “9 Haji”.

Kekuatan aset tambang negara harus terlihat bukan hanya dalam angka konsolidasi holding, tetapi juga melalui perusahaan yang kuat secara individual.

“Kalau kelompok besar memiliki tambang yang menjadi mesin kekuatan bisnis mereka, negara juga harus punya yang sama kuatnya. Kita sudah punya enam anggota MIND ID. Harus ada tiga mesin pertumbuhan baru sehingga kita memiliki sembilan raksasa yang mampu bersaing,” katanya.

Saat ini, MIND ID menaungi enam entitas utama, yakni PT ANTAM Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), PT Timah Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk. Ia menilai keenam perusahaan tersebut harus terus diperkuat dari sisi teknologi, akses pasar, produktivitas, dan kemampuan mengambil peluang investasi.

Keberadaan kelompok yang disebut “9 Naga” dan “9 Haji” menunjukkan pentingnya memiliki entitas yang tidak hanya menguasai sumber daya, tetapi juga mampu mengendalikan rantai nilai, membangun infrastruktur, menguasai teknologi, dan memperluas pasar.

“Kita tidak boleh hanya mengatakan negara memiliki cadangan mineral yang besar, tetapi perusahaan yang mengelolanya tidak berkembang menjadi pemain industri kelas dunia,” ujarnya.

Ia menegaskan, perbandingan tersebut bukan berarti BUMN harus meniru seluruh strategi perusahaan swasta. Yang perlu dibangun adalah kekuatan korporasi nasional yang mampu bersaing dalam skala usaha, produktivitas, teknologi, dan penguasaan pasar.

Karena itu, ia mengusulkan tiga bidang sebagai mesin pertumbuhan baru yang layak dikaji, yakni industri baterai dan penyimpanan energi, pengolahan mineral kritis dan material maju, serta jasa pertambangan, logistik, dan infrastruktur. Ketiganya diarahkan untuk memperkuat rantai nilai mineral sekaligus menjawab kebutuhan industri masa depan.

“Angka sembilan bukan berarti kita menambah perusahaan sebanyak-banyaknya. Setiap entitas harus memiliki fungsi yang jelas, pasar yang kuat, kesiapan teknologi, kebutuhan investasi yang terukur, dan kemampuan menghasilkan keuntungan,” tegasnya.

Dalam konteks persaingan tersebut, ia juga menyoroti rencana pengalihan sekitar 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk kepada PT Jhonlin Baratama. Perjanjian jual beli saham bersyarat ditandatangani pada 16 September lalu dan penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan.

Transaksi tersebut menjadi momentum untuk melihat bagaimana MIND ID menilai peluang investasi strategis di sektor pertambangan. Namun, ia mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan suatu aset murah atau mahal sebelum mengetahui harga dan seluruh persyaratan transaksinya.

“Publik berhak bertanya apakah MIND ID pernah menilai peluang masuk ke Bayan, berapa valuasi wajarnya, dan mengapa peluang itu diambil atau dilewatkan,” katanya.

Ia meminta MIND ID memiliki kerangka alokasi modal yang jelas. Setiap keputusan investasi besar harus dapat dijelaskan berdasarkan prospek pasar, pengembalian investasi, risiko, serta manfaat bagi negara.

Karena itu, gagasan sembilan raksasa tersebut merupakan upaya membangun kekuatan industri nasional agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah. Enam perusahaan yang telah ada harus diperkuat, sementara tiga mesin pertumbuhan baru dikembangkan secara selektif berdasarkan kelayakan bisnis.

“Negara juga harus punya sembilan raksasa industri yang menjadi kekuatan ekonomi nasional. Jangan sampai kita memiliki sumber daya alamnya, sementara perusahaan yang menguasai pasarnya justru tumbuh di luar negeri. MIND ID harus mampu melahirkan perusahaan sekelas itu,” pungkasnya.