Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Hotspot Karhutla Tembus 515 Titik, Johan Rosihan Desak Pencegahan dari Hulu

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (29/09) — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan dari Dapil NTB I, menyoroti peningkatan signifikan titik panas (hotspot) yang terpantau dalam beberapa hari terakhir. Ia menegaskan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh menurun, terlebih angka hotspot terus mengalami peningkatan.

Hal tersebut disampaikan Johan dalam sesi PKS Legislative Report jelang Rapat Paripurna ke-7 DPR RI Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026/2027, Selasa (29/09), di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Johan menyampaikan, berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan yang dipantaunya, jumlah hotspot meningkat dari 213 titik pada Kamis, menjadi 313 titik pada Jumat, dan mencapai 515 titik hingga Minggu malam. Dari jumlah tersebut, sebagian hotspot memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

“Ada pergerakan angka yang cukup signifikan. Data SIPONGI Kehutanan itu ada 213 titik di hari Kamis, kemudian sempat naik 313 di hari Jumat, dan sampai data yang kami ikuti sampai Ahad malam kemarin itu datanya sampai 515 titik. Dalam sehari 24 jam itu ada peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi sampai 64 persen,” ujar Anggota DPR RI Dapil Nusa Tenggara Barat I tersebut.

Menurut Johan, DPR melalui Komisi IV telah membentuk Panja Karhutla. Ia menekankan agar Panja tidak hanya berfokus pada penanganan ketika kebakaran telah meluas, tetapi juga memastikan sistem pencegahan berjalan dari hulu hingga hilir.

“Saya sebagai anggota Panja ingin memastikan bahwa Panja ini bekerjanya dari hulu sampai hilir. Tidak hanya kita bicara ketika asap itu menebal dan mengakibatkan kerugian dari warga, tetapi yang paling penting adalah bagaimana sistem pencegahannya, bagaimana kesiapan dari stakeholder karhutla, misalnya Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan lain-lain,” tegasnya.

Johan juga mendorong penguatan pengawasan terhadap perusahaan serta memastikan tindak lanjut penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla justru harus diukur dari semakin kecilnya kebakaran yang terjadi sebagai hasil dari pencegahan yang efektif.

“Keberhasilan kita dalam menangani karhutla itu sesungguhnya adalah semakin kecilnya api yang kita padamkan, karena pencegahan kita yang panjang. Jadi, jangan beraksi, jangan berkonten dengan karhutla ini, karena ini bukan tempat konten sebenarnya, tetapi ini adalah bentuk perlindungan kita kepada warga negara,” ujar Johan.

Ia berharap Panja Karhutla dapat menghasilkan langkah konkret dengan mengidentifikasi wilayah konsesi yang mengalami karhutla serta titik api yang berulang setiap tahun. Menurutnya, kebakaran yang terus berulang di lokasi yang sama dapat menjadi indikator adanya persoalan dalam tata kelola yang perlu dituntaskan.