Malang (23/09) — Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Timur menggelar Latihan Perempuan Siaga (Latansa) M1 di kawasan Coban Rondo, Malang, Minggu (20/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 1.324 kader perempuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur dari berbagai kelompok usia, mulai dari 20-an hingga 70-an tahun.
Kegiatan Latansa M1 tidak hanya menjadi sarana pembinaan fisik, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kekompakan, komunikasi, kebugaran, serta kesiapsiagaan para kader perempuan. Sejumlah aktivitas diberikan kepada peserta, antara lain materi kesehatan, kebugaran, permainan kelompok, hingga long march.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), Reni Astuti. Dalam kesempatan tersebut, Reni mendorong kader perempuan PKS untuk terus bertumbuh dan mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
Menurut Reni, perempuan memiliki posisi penting dalam menghadirkan manfaat di lingkungan masing-masing. Karena itu, kader perempuan tidak cukup hanya memiliki semangat berorganisasi, tetapi juga perlu memiliki kapasitas, ketangguhan, serta kecepatan dalam merespons kebutuhan masyarakat.
“Perempuan PKS harus menjadi perempuan yang terus bertumbuh, kuat menghadapi berbagai tantangan, dan cepat bergerak ketika masyarakat membutuhkan. Kita ingin perempuan PKS menjadi lokomotif kebaikan di tengah masyarakat,” ujar Reni.
Tiga Karakter Perempuan PKS
Dalam kesempatan tersebut, Reni merangkum tiga karakter utama yang menurutnya perlu dimiliki kader perempuan PKS dalam akronim PKS: Pintar, Kuat, dan Sat-set.
Pertama, Pintar. Reni memaknai pintar tidak hanya sebagai kemampuan berpikir, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan fisik dan membangun kekuatan spiritual. Menurutnya, akal perlu terus diasah dengan hal-hal positif dan produktif, tubuh dijaga melalui pola hidup sehat, sementara hati diperkuat dengan ibadah dan lingkungan yang baik.
Pintar juga berarti memiliki kepekaan terhadap kondisi sekitar. Kader perempuan diharapkan mengenali persoalan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk memahami potensi dan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Kedua, Kuat. Kekuatan perempuan tidak hanya berkaitan dengan ketahanan fisik, tetapi juga kekuatan ilmu dan amal. Reni menekankan pentingnya proses pembinaan yang berkelanjutan agar kader terus meningkatkan kapasitas pengetahuan sekaligus memperbanyak kontribusi nyata.
Ketiga, Sat-set. Karakter ini dimaknai sebagai sikap sigap dan segera mengambil peran ketika ada kebutuhan di masyarakat. Menurut Reni, semangat bergerak perlu dibangun agar kader tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi aksi dan pelayanan.
“Pintar, kuat, dan sat-set ini harus menjadi satu kesatuan. Pintar agar kita tahu apa yang harus dilakukan, kuat agar kita mampu menjalankannya, dan sat-set agar kita tidak menunda ketika ada kebaikan yang harus segera dikerjakan,” kata Reni.
Masyarakat Menanti Kehadiran dan Kontribusi
Reni mengingatkan bahwa kader perempuan memiliki ruang kontribusi yang luas di tengah masyarakat. Berbagai persoalan di lingkungan sekitar membutuhkan kehadiran orang-orang yang bersedia mendengar, mendampingi, melakukan advokasi, dan membantu mencari solusi.
“Di luar sana masyarakat menanti bantuan kita, menanti advokasi kita. Maka jangan berhenti di sini. Segera kita bergerak, segera kita melayani masyarakat,” tegas Reni.
Ia berharap semangat yang dibangun melalui Latansa M1 tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi diteruskan menjadi energi untuk menghadirkan lebih banyak manfaat di lingkungan masing-masing.
“Jalan perjuangan ini panjang. Karena itu kita harus terus bertumbuh, terus belajar, terus menguatkan diri, dan terus hadir memberikan manfaat. Jadilah perempuan yang menjadi lokomotif kebaikan bagi masyarakat,” pungkas Reni.
Latansa M1 dibuka oleh Ketua DPW PKS Jawa Timur Bagus Prasetia Lelana dan dihadiri jajaran pengurus BKBN DPW PKS Jawa Timur di bawah koordinasi Komandan BKBN Kukuh Nurma Nugroho. Kegiatan berlangsung hingga sesi penutupan dengan berbagai apresiasi bagi peserta, termasuk peserta dari wilayah terjauh, peserta dengan capaian hafalan dan lari terjauh, serta peserta senior.