Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Ateng Sutisna Dorong Regenerasi Petani Muda untuk Jaga Subang sebagai Lumbung Beras Nasional

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (04/05) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menegaskan bahwa Kabupaten Subang memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu lumbung padi paling produktif di Provinsi Jawa Barat. Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan reses Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 bersama Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Kabupaten Subang, Jumat (30/04/2026).

Subang memikul peran ganda, tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga sebagai penopang pasokan beras nasional. Rantai pasok sektor ini bersifat kompleks, mulai dari budidaya di hulu hingga di hilir, dengan industri penggilingan padi sebagai titik krusial yang mengonversi Gabah Kering Panen (GKP) menjadi beras siap konsumsi.

Namun, ia menyoroti bahwa sektor ini tengah menghadapi tekanan serius yang bersifat multidimensi. Mulai dari dampak perubahan iklim, stagnasi teknologi, ketimpangan pasar, hingga infrastruktur irigasi yang belum optimal.

“Ini sudah menjadi persoalan sistemik yang jika tidak ditangani dengan serius, akan berdampak langsung pada stabilitas pangan dan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Dampak tersebut membuat harga beras premium di Subang dilaporkan mengalami kenaikan signifikan hingga mendekati Rp15.000 per kg, dan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat serta turunnya volume penjualan beras di pasar lokal.

Persoalan mendasar yang tidak kalah pentingnya adalah melemahnya regenerasi petani, khususnya dari kalangan generasi muda. Ia menilai menurunnya minat anak muda pada pertanian bukan disebabkan oleh faktor kemauan semata, melainkan karena pertanian belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan yang layak.

Berbagai tantangan seperti penghasilan yang tidak pasti, risiko gagal panen, fluktuasi harga gabah, keterbatasan akses modal, hingga sempitnya lahan membuat sektor ini kurang diminati. Kondisi tersebut diperparah dengan perubahan struktur ekonomi di Subang yang mulai bergeser ke arah industrialisasi.

Ia juga menyinggung data Sensus Pertanian pada 2023 yang menunjukkan bahwa petani milenial berusia 19–39 tahun hanya tersisa sekitar 21,93% dari total petani di Indonesia, dan jumlah ini diproyeksikan terus menurun.

“Kalau regenerasi ini tidak kita jaga, maka yang terjadi kekurangan orang yang mau dan mampu mengelola lahan,” tegasnya.

Sejumlah risiko terjadi mulai dari penuaan petani, stagnasi produktivitas, alih fungsi lahan, hingga melemahnya ketahanan pangan baik di tingkat daerah maupun nasional. Selain itu, hilangnya pengetahuan lokal pertanian juga menjadi ancaman nyata.

Kondisi penggilingan padi di Subang juga menghadapi tantangan. Jumlah penggilingan padi skala besar dan menengah mengalami penurunan signifikan, sementara penggilingan kecil justru meningkat, namun tidak diiringi dengan peningkatan kualitas. Mayoritas penggilingan kecil masih menggunakan teknologi lama yang kurang optimal, sehingga berdampak pada daya saing produk di pasar.

“Kalau kita ingin meningkatkan kualitas beras dan efisiensi produksi, maka modernisasi penggilingan padi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia mendorong lahirnya Gerakan Regenerasi Petani Padi Subang dengan pendekatan baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menekankan bahwa pertanian harus diposisikan sebagai profesi modern yang produktif, bermartabat, dan memberikan nilai ekonomi yang jelas.

Selain itu, penting juga dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna mendorong transformasi penggilingan padi kecil menuju sistem Rice Milling Unit (RMU) yang lebih modern, termasuk penggunaan teknologi seperti color sorter.

Peran negara sangat penting dalam menjaga stabilitas melalui optimalisasi fasilitas Modern Rice Milling Plant (MRMP) yang dikelola oleh BULOG. Keberadaannya tidak hanya meningkatkan kualitas beras nasional, tetapi juga stabilisasi harga di tingkat petani maupun konsumen.

Ia pun berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat terus diperkuat agar Subang tidak hanya mempertahankan, tetapi juga mengembalikan kejayaannya sebagai lumbung beras nasional.

“Jika anak muda kembali ke sektor ini dengan dukungan yang tepat, maka Subang bukan hanya bertahan, tetapi bisa kembali menjadi tulang punggung pangan nasional,” pungkasnya.