Banjarmasin (21/10) — Anggota DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, mengapresiasi kepedulian Forum Peduli Banua yang terdiri dari Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
⠀
Menurut Habib Aboe, kepedulian para pelajar terhadap persoalan lingkungan menunjukkan tumbuhnya kesadaran generasi muda untuk terlibat dalam menjawab berbagai tantangan sosial di daerah.
⠀
“Saya mengapresiasi kepedulian Forum Peduli Banua dari PII, IPNU, dan IPM. Ini menunjukkan bahwa para pelajar sekarang sensitif terhadap problem sosial di Kalimantan Selatan. Saya ingin menegaskan bahwa pemuda dan pelajar bukan sekadar kelompok yang terdampak oleh karhutla. Pian barataan adalah bagian penting dari solusi,” ujar Habib Aboe.
⠀
Ia menilai generasi muda memiliki modal besar untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan karhutla, mulai dari energi dan kreativitas hingga kemampuan membangun jejaring serta memanfaatkan teknologi informasi.
⠀
“Anak muda memiliki energi, kreativitas, kemampuan membangun jejaring, dan kedekatan dengan teknologi informasi. Modal ini bisa digunakan untuk memperluas edukasi lingkungan dan mendorong perubahan perilaku di tengah masyarakat,” terang Anggota DPR RI dari Kalsel I tersebut.
⠀
Habib Aboe menekankan tiga peran penting yang dapat dijalankan bersama oleh pelajar dan pemuda dalam membangun kesadaran serta memperkuat pencegahan karhutla.
⠀
Pertama, menjadi penyebar pengetahuan yang benar. Menurutnya, edukasi mengenai penyebab dan dampak karhutla harus dimulai dari lingkungan terdekat, seperti sekolah, kampus, keluarga, organisasi kepemudaan, dan tempat tinggal.
⠀
Pelajar juga diharapkan mampu menjelaskan risiko pembakaran lahan serta menyebarkan informasi pencegahan berdasarkan sumber yang dapat dipercaya. Di tengah derasnya arus informasi digital, ia mengingatkan agar generasi muda tidak ikut menyebarluaskan kabar yang belum terverifikasi.
⠀
“Jangan sampai kita justru ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan dan menghambat penanganan. Karena itu, anak muda harus menjadi bagian dari penyebaran informasi yang benar dan edukatif,” tegas anggota Komisi III DPR RI tersebut.
⠀
Kedua, membangun budaya pencegahan. Habib Aboe mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan atau unggahan di media sosial. Kepedulian tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan kebiasaan sehari-hari.
⠀
Ia mendorong komunitas pelajar dan pemuda untuk mengembangkan berbagai kegiatan edukasi kreatif, seperti kampanye lingkungan, pembuatan poster, video singkat, diskusi kelas, serta kegiatan sosialisasi yang mudah dipahami masyarakat.
⠀
“Pencegahan harus menjadi budaya bersama. Kita perlu mendorong masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan indikasi kebakaran, masyarakat juga perlu mengetahui jalur pelaporan resmi agar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
⠀
Ketiga, memperkuat kolaborasi. Habib Aboe menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, aparat, dan masyarakat.
⠀
Ia berharap Forum Peduli Banua dapat menjadi titik awal terbentuknya jaringan komunikasi pemuda dan pelajar yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan.
⠀
“Forum ini hendaknya menjadi awal terbentuknya jaringan komunikasi pemuda-pelajar peduli lingkungan yang tidak berhenti setelah acara selesai. Dengan koordinasi dan kolaborasi, gagasan yang lahir dari forum seperti ini dapat diubah menjadi program yang terukur dan berkelanjutan,” kata Habib Aboe.
⠀
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui edukasi, kampanye pencegahan, maupun penguatan komunikasi di tingkat komunitas.
⠀
Habib Aboe berharap kepedulian yang ditunjukkan PII, IPNU, dan IPM dapat menginspirasi lebih banyak kelompok pemuda dan pelajar di Kalimantan Selatan untuk terlibat aktif dalam menjaga lingkungan.
⠀
“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan kehidupan kita bersama. Karena itu, mari kita jadikan kepedulian ini sebagai gerakan bersama. Pemuda dan pelajar harus hadir, bergerak, dan mengambil bagian dalam solusi,” pungkasnya.