Brebes (16/10) — Anggota DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menegaskan bahwa capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi saja tidak cukup bagi lulusan perguruan tinggi untuk menaklukkan dunia kerja, melainkan harus dibarengi dengan integritas serta penerapan rumus Bekerja, Melanjutkan Studi, atau Wirausaha (BMW).
⠀
Pesan tersebut disampaikan Fikri saat memberikan orasi ilmiah di hadapan 424 wisudawan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-11 Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) di Gedung Sport Center Hartanto-Aqib, Kabupaten Brebes, Kamis (15/10/2026).
⠀
Menurut Fikri, momentum wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan langkah awal bagi para lulusan untuk terjun ke dunia nyata. Oleh karena itu, ia mengingatkan para wisudawan agar tidak cepat berpuas diri dan terus melakukan pengembangan diri secara terus-menerus.
⠀
“Sesungguhnya jangan merasa menjadi orang pintar sendirian karena di dunia ini ada orang-orang pintar lainnya di atas kita,” ujar Fikri di hadapan ratusan wisudawan.
⠀
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX yang meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes ini menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini menuntut kecakapan hidup yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai akademik di atas kertas.
⠀
“Sesungguhnya selain IPK, ada hal lain yang dicari, yakni integritas, berbahasa asing, dan tentunya kepercayaan. Ini semua dibangun atas dasar keimanan kepada Allah Swt.,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
⠀
Lebih lanjut, Fikri menekankan agar capaian kelulusan ini disikapi dengan keimanan yang dilandasi rasa syukur. Dengan demikian, kesuksesan yang diraih oleh para lulusan ke depan dapat senantiasa membawa keberkahan.
⠀
“Maka contoh yang paling tepat tentang syukur adalah dari Nabi Daud yang mensyukuri mulai dari diri dan keluarga sehingga menjadi kunci kesuksesan,” ungkapnya.
⠀
Agar langsung berdaya saing dan tidak menganggur pascakelulusan, Fikri meminta para lulusan UPB untuk menerapkan rumus BMW yang sejalan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 Perguruan Tinggi.
⠀
Melalui rumus tersebut, setiap lulusan didorong untuk segera terserap ke dalam tiga jalur produktif, yakni bekerja secara layak di industri atau instansi, melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana (S-2/S-3) maupun pendidikan profesi, atau berwirausaha dengan merintis bisnis mandiri.
⠀
Senada dengan Fikri, Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Adhrial Refaddin, turut mengingatkan bahwa penguasaan aspek teknis dan teknologi saja tidak lagi memadai di tengah derasnya disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
⠀
Menurutnya, keterampilan nonteknis seperti karakter, empati, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kolaborasi adalah pembeda utama manusia dari mesin.
⠀
“Penguasaan teknologi saja tidak cukup untuk bersaing di masa depan. Pendidikan harus menumbuhkan karakter, empati, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi yang tidak dapat direplikasi oleh mesin,” tutur Adhrial.
⠀
Ia juga mendorong para lulusan untuk terus beradaptasi dan berkomitmen menjalani pembelajaran sepanjang hayat guna menghadapi persaingan global lintas negara.
⠀
“AI memang membawa disrupsi yang nyata, tetapi dengan intervensi yang tepat, kita bisa memastikan manfaatnya lebih besar daripada risikonya. Generasi muda harus siap menghadapi perubahan dengan sikap terbuka, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat. Jangan berhenti sampai di sini. Jika suka membaca, ambil peluang itu,” tambahnya.
⠀
Gelaran Wisuda ke-11 UPB tahun ini mengusung pesan utama agar seluruh lulusan siap menghadapi perubahan zaman dengan tetap memegang teguh jati diri bangsa.
⠀
Dari total 424 mahasiswa yang dikukuhkan, sejumlah lulusan berhasil mencatatkan prestasi akademik membanggakan, di antaranya Aenun Mukaromah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IPK 3,98), Septiana Novi Rahayu dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IPK 3,93), Intan Nur Aeni dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IPK 3,93), serta M. Rizki Risaleh dari Fakultas Sains dan Teknologi (IPK 3,89).