Tangerang (05/10) — Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) mengambil peran lebih besar dalam memperkuat diplomasi parlemen Indonesia di tingkat global.
Anggota BKSAP DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, mengatakan keberadaan BKSAP di UMT bukan sekadar kegiatan sosialisasi, tetapi merupakan upaya membangun kolaborasi konkret antara parlemen dan dunia akademik.
“Hadirnya kami di UMT bukan sekadar sosialisasi satu arah. Kami ingin mengajak UMT untuk melangkah bersama dalam beberapa hal konkret,” ujar Habib Aboe.
Menurutnya, Tangerang memiliki posisi strategis sebagai kota industri, pintu gerbang logistik dan penerbangan internasional, sekaligus salah satu pusat pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut membuat Tangerang memiliki relevansi kuat dalam percakapan diplomasi Indonesia dengan negara-negara mitra.
“Tangerang ini unik. Ini kota industri, pintu gerbang logistik penerbangan internasional, dan pusat pertumbuhan ekonomi. Ketika kami bertukar pikiran dengan anggota parlemen dari Uni Eropa atau negara-negara mitra G20, mereka tidak cuma tanya soal Jakarta,” katanya.
Ia menjelaskan, isu yang berkembang dalam forum internasional juga menyentuh kesiapan industri hijau serta perlindungan tenaga kerja. Karena itu, menurut Habib Aboe, UMT dapat berkontribusi melalui riset akademik berbasis bukti.
“Nah, di sinilah peran UMT. Kami butuh riset berbasis bukti atau evidence-based research dari teman-teman akademisi UMT. Kasih kami data dan analisis riil dari lapangan,” tegasnya.
Habib Aboe menilai data dan kajian akademik dari UMT dapat menjadi bekal penting bagi BKSAP ketika membawa kepentingan Indonesia dalam forum internasional.
“Biar saat BKSAP berdiplomasi di forum internasional, narasi yang kami bawa adalah narasi yang membela kepentingan industri dan masyarakat Tangerang,” ujarnya.
Selain memperkuat riset, Habib Aboe juga menyoroti potensi besar jaringan internasional Muhammadiyah sebagai kekuatan soft power Indonesia.
“Kita tahu betul, Muhammadiyah punya jaringan global yang luar biasa. Punya cabang istimewa di berbagai negara, punya lembaga kemanusiaan yang aktif di daerah konflik, sampai universitas di luar negeri. Ini adalah soft power yang sangat mahal harganya,” tuturnya.
Ia mengatakan jejaring internasional Muhammadiyah dapat memperkuat posisi moral diplomasi Indonesia, khususnya dalam isu kemanusiaan yang menjadi perhatian dunia.
“Ketika BKSAP memperjuangkan isu-isu kemanusiaan, seperti isu Palestina atau pengungsi Rohingya di forum IPU dan AIPA, kehadiran jejaring kemanusiaan Muhammadiyah memberi bobot moral yang amat kuat bagi diplomasi Indonesia,” kata Habib Aboe.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan sivitas akademika UMT untuk melihat kampus bukan hanya sebagai ruang pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang dapat berkontribusi terhadap diplomasi Indonesia.
“Teman-teman mahasiswa dan dosen di UMT harus bangga, karena Anda berada di dalam ekosistem yang punya pengaruh global tersebut,” katanya.
Habib Aboe menegaskan, gagasan mengenai keadilan global dan kesejahteraan rakyat dapat lahir dari lingkungan akademik, termasuk dari ruang-ruang kelas di UMT.
“Gagasan besar untuk memperjuangkan keadilan global dan kesejahteraan rakyat bisa lahir dari mana saja, termasuk dari ruang-ruang kelas di Universitas Muhammadiyah Tangerang ini,” ujarnya.
Ia pun mengajak UMT bersama-sama memperkuat kontribusi akademik dan intelektual bagi diplomasi Indonesia.
“Mari kita buktikan, dari UMT Tangerang, kita warnai diplomasi Indonesia untuk dunia,” pungkas Habib Aboe.