Jakarta (02/10) — Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Maluku Utara, Izzuddin Alqassam Kasuba, menyambut positif dorongan Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan komoditas lokal Maluku Utara seperti kelor dan kenari menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi.
Menurut Alqassam, potensi komoditas lokal tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Kelor, kenari, rempah, serta berbagai produk khas Maluku Utara perlu diolah, dikemas, dan diberi identitas yang kuat agar memiliki nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
“Ini arah yang sangat tepat. Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan baku. Kita harus mulai mengubah kekayaan alam menjadi produk yang punya nilai tambah, punya merek, punya cerita, dan punya pasar,” kata Alqassam dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).
Ia mengatakan pendekatan packaging dan storytelling dapat menjadi kekuatan penting untuk membedakan produk Maluku Utara dengan produk dari daerah lain. Menurutnya, konsumen saat ini tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli pengalaman, identitas, dan cerita di balik sebuah produk.
“Kenari itu bukan sekadar kacang, kelor bukan sekadar daun. Di belakangnya ada alam Maluku Utara, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat. Cerita itu harus diterjemahkan menjadi desain produk yang menarik dan mudah dikenali,” ujarnya.
Alqassam menilai penguatan desain visual perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas produk, standardisasi, sertifikasi, kontinuitas pasokan, serta akses pasar. Tanpa hal tersebut, branding berisiko hanya menjadi tampilan luar tanpa diikuti peningkatan daya saing.
“Jangan sampai produknya sudah bagus di kemasan, tetapi ketika ada permintaan besar barangnya tidak tersedia atau kualitasnya berubah-ubah. Ekonomi kreatif harus bertemu dengan kemampuan produksi dan rantai pasok,” katanya.
Ia juga mendorong Kementerian Ekonomi Kreatif memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, perguruan tinggi, desainer, hingga sektor industri untuk membangun ekosistem produk lokal Maluku Utara.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar kreator lokal tidak hanya menjadi pendukung promosi, tetapi ikut terlibat sejak proses pengembangan identitas produk hingga strategi pemasarannya.
“Kalau desainer, pelaku UMKM, pemerintah, akademisi, dan pasar bisa duduk bersama, kita bisa menciptakan produk Maluku Utara yang kuat secara kualitas sekaligus kuat secara cerita,” tutur Alqassam.
Alqassam berharap pengembangan komoditas lokal berbasis ekonomi kreatif dapat membuka lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja di Maluku Utara.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat produk terlihat lebih cantik. Kita ingin petani, nelayan, perajin, UMKM, dan anak-anak muda di Maluku Utara ikut menikmati nilai tambahnya. Dari bahan lokal, menjadi produk lokal, lalu masuk pasar nasional bahkan global,” pungkasnya.